Hanya teori-teorilah yang dapat menjadi referensi dan acuan dalam mengembangkan suatu bidang ilmu,” demikianlah seorang pakar komunikasi, LittleJohn berpendapat tentang pentingnya memahami teori-teori yang ada.

Antara proses pemenuhan awal akan pengetahuan dan kepastian, keduanya terangkum dalam proses pemenuhan dengan berpikir filsafati. Pengetahuan berawal dari sikap ingin tahu, dan kepastian berawal dari sikap skeptisisme (keragu-raguan), sedangkan filsafat sendiri dimulai dari kedua-duanya. Dengan berfilsafat, ia mendorong kita untuk senantiasa mengetahui

Gambar ilustrasi perbedaan paham antara Plato (kanan) dengan Aristoteles (kiri).

apa yang telah kita ketahui dan menunjukkan apa yang belum kita ketahui. Dengan berfilsafat pula, ia menganjurkan kita untuk tetap merendah diri bahwa kita tak selamanya mampu mengetahui semua apa yang ada dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini.

Untuk lebih jelasnya, menarik kiranya kita menyimak berbagai teori pengetahuan dari kalangan para filsuf terkemuka, dalam hal ini teori pengetahuan Plato dan Aristoteles. Hal ini berisyarat bahwa dengan mempelajarinya secara seksama, perlahan tapi pasti akan menuntun, dan tentunya bisa dijadikan sebagai salah satu landasan dalam berpikir tentang bagaimana dan apa yang bisa kita ketahui, terkhusus mereka yang bergelut dalam dunia kefilsafatan.

Plato dan Ide-Idenya

Atas pengaruh dari Socrates, Plato yakin bahwa pengetahuan itu dapat dicapai, dimiliki dengan sepenuhnya. Pengetahuan yang sifatnya sempurna dan sebagai objek yang benar-benar nyata dari bentuk aslinya, baginya ia akan permanen dan tidak akan pernah berubah. Keyakinan akan identifikasi semacam ini bisa disimak dalam ajaran ide-idenya, khususnya dalam konsep dua dunianya: dunia ideal dan dunia indrawi. Baginya, klaim bahwa pengetahuan itu berasal dari pengalaman akal (pandangan ini dikenal dari kelompok empirisisme),[1] sungguh sesuatu yang janggal adanya. Obyek-obyek pengalaman akal hanyalah fenomena yang pada akhirnya akan berubah seiring berubah dunia indrawi. Dengan begitu, obyek-obyek pengalaman bukanlah obyek pengetahuan yang tepat.[2]

Ada dua sumbangan terpenting Plato bagi teori pengetahuan, yakni pertama pengetahuan itu adalah peringatan tentang apa yang telah ada dalam pikiran, bukan mempersepsi benda-benda baru, dan kedua adalah Teori Ide-Ide yang menekankan jalan pencarian dengan akal untuk menemukan Ide-Ide atau yang universal di dalam budinya sendiri.

Seperti yang telah dijelaskan di awal tadi bahwa kelompok empirisisme begitu ditentang oleh Plato. Di dalam salah satu karyanya semisal, tercantum pendapat Theaetetus mengenai pengetahuan.[3] Menurut Plato, dewasa ini yang merupakan pengetahuan yang datang melalui indra, dianggap benar dan ilmiah. Baginya, jika dunia ini selalu berubah,[4] bagaimana dunia atau indra dapat diandalkan? Ia menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat diandalkan dan pengetahuan sejati harus datang dari tempat lain, yakni bahwa pengetahuan itu telah ada sebelumnya.[5]

Berkaitan dengan pemahaman Plato, Socrates pun pernah mengklaim bahwa kita tidak “belajar”, tetapi “mengingat”. Pengetahuan selalu telah ada di dalam pikiran kita. Kita mempunyai pengetahuan dari saat sebelum kita lahir. Dari sinilah Plato mempunyai kemantapan bahwa pendidikan dan pengalaman tidak berpengaruh, pengetahuan sejati merupakan bawaan dalam diri kita. Kita tidak harus mengandalkan indra untuk memperoleh pengetahuan mengenai dunia. Pengetahuan sejati terdiri dari ide-ide yang telah ada dalam pikiran, bukan ide-ide yang datang pada kita melalui indra.

Tentang Teori Ide-Idenya, ia memahami sebagai sesuatu yang memiliki eksistensi rill, bebas dari dunia mental pikiran manusia, atau dari dunia natural. Ide-Ide ini bersifat universal yang hanya mempunyai Ide tertinggi di atas segala Ide, yakni Ide Kebaikan. Karenanya, Ide tertinggi dari pengetahuan adalah pengetahuan tentang Ide yang baik, yang darinya semua hal yang adil dan sebagainya berguna dan bernilai. Budi adalah tahu, demikianlah Socrates menyebutnya.

Teori Ide-Ide ini juga penting menurutnya (Plato) karena ia bisa membantu bagaimana dalam mengelompokkan objek di dunia dan memahami kodrat mereka. Kata “Kuda” semisal, menunjuk kepada binatang berkaki empat, mempunyai bulu, tetapi semua kuda tidaklah sama; warna, ukuran; keturunan yang berbeda-beda, namun semuanya di dunia ini diambil sesuatu Ide yang serupa dengannya, yakni Ide “ke-kuda-an” yang karena, menurut Plato, kita bisa mengenali kuda sewaktu melihatnya, apapun bentuk, warna, dan jenis kuda tersebut.

Aristoteles Sang “Pembangkang”

Serupa halnya dengan Plato, Aristoteles juga mengemukakan tentang adanya dua pengetahuan, yakni pengetahuan indrawi dan pengetahuan akali. Pengetahuan indrawi merupakan hasil dari keadaan konkrit sebuah benda, sedangkan pengetahuan akali merupakan hasil dari hakekat jenis benda itu sendiri. Memang, pengetahuan indrawi mengarah kepada ilmu pengetahuan tetapi ia sendiri bukan ilmu pengetahuan lantaran ilmu pengetahuan hanya terdiri dari pengetahuan akali. Itu sebabnya mengapa Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah didapat dari hal-hal yang konkrit, melainkan mengenai hal-hal yang sifatnya universal.[6]

Namun demikian, Aristoteles sangat menentang pendapat Plato gurunya. Ia berpendapat bahwa dunia yang sesungguhnya adalah dunia real, yakni dunia nyata yang bermacam-macam, bersifat relatif dan berubah-ubah. Dunia ide, sebagaimana anggapan Plato, hanyalah dunia abstrak yang bersifat semu, terlepas dari pengalaman. Itu sebabnya pandangan Aristoteles lebih dikenal sebagai paham realis (realisme). Akal tidaklah mengandung ide-ide bawaan, melainkan mengabstraksikan ide-ide yang terdapat dalam bentuk benda-benda berdasar hasil tangkapan indrawi.

Bertolak dari gurunya, pandangannya lebih bersifat “common-sense” ketimbang “idealis”. Baginya, pengetahuan adalah persepsi, dunia natural adalah dunia nyata, dan persepsi dan pengalaman indrawi adalah dasar pengetahuan ilmiah.

Sebagai filsuf realis, sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan sangatlah besar, dan sampai sekarang masih kerap digunakan, yakni mengenai abstraksi: aktifitas rasional dimana seseorang memperoleh pengetahuan. Tentang abstraksi tersebut, ada tiga macam menurut Aristoteles sendiri, yakni: Abstraksi Fisis/Fisika, Abstraksi Matematis, dan Abstraksi Teologi/Metafisis.[7]

Pada akhirnya, perbedaan antara Plato dan muridnya Aristoteles teranglah signifikansinya. Plato memulainya dengan intelek; Aristoteles memulainya dengan persepsi akan dunia natural. Pemahaman Plato bersifat matematis; pengertian Aristoteles bersifat ilmiah, didasarkan pada persepsi, observasi, dan penyelidikan. Meski demikian, kedua pemikir penting ini mengajarkan bagaimana mengetahui dunia yang saat ini masih penting untuk kita telaah bersama.

*Disampaikan dalam Komunitas Kajian Aqidah & Filsafat di Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Rabu, 31 Oktober 2012.


[1] John Locke,  salah satu tokoh empirisisme, percaya bahwa semua pengetahuan datang melalui pengalaman. Budi merupakan kertas kosong, ditulisi oleh apa yang sampai kepada kita melalui indra:…Ide-Ide: Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang; Linda Smith & William Raeper; Yogyakarta: Kanisius; 2004; hlm. 67.

[2] Microsoft Encarta home page. http://www.encarta.msn.com akses Senin, 29 Oktober 2012.

[3]Jelas bagi saya bahwa seseorang yang mengetahui sesuatu mempersepsi benda yang ia ketahui, dan, sejauh saya dapat melihat sekarang, pengetahuan tidak lain kecuali persepsi,” demikianlah kutipan Theaetetus dalam dialog Plato, Theaetetus. Ibid; hlm. 16.

[4] Pernyataan ini terkenal dari salah seorang Filsuf Pra-Sokratik, Herakleitos, dengan pernyataannya: Panta rhei! (Segala sesuatu mengalir!). Simon Petrus L. Tjahjadi; Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern; Yogyakarta: Kanisius; 2008; hlm. 27.

[5] Mengitup pernyataan Socrates: “bahwa di dalam mencapai pengetahuan,  kita tidaklah belajar melainkan berusaha meningatnya.” Ide-Ide: Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang; Linda Smith & William Raeper; Yogyakarta: Kanisius; 2004.

[6] Mustansyir R & Munir M; Filsafat Ilmu; Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2008;

[7] Hamersma Harry; Pintu Masuk Ke Dunia Filsafat; Yogyakarta: Kanisius; 1981.

Iklan