1959119Judul: Palu Arit di Ladang Tebu, Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (1965 – 1966)

Penulis: Hermawan Sulistyo

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta

Tahun: Cetakan III, Agustus 2003

Tebal: Tebal 307 hlm., 14 x 21 cm

ISBNS : 979-9023-42-4

 

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai politik yang pernah mencatatkan namanya sebagai partai terkuat di hampir beberapa daerah di Indonesia, terutama di daerah Jawa bagian tengah dan timur. Sebagai partai, PKI tidak hanya bergelut di dunia perpolitikan nasional, melainkan juga menjadi pelopor perjuangan buruh dan proletar terhadap kaum borjuis yang diyakini telah lama menjadi dalang atas penderitaan yang dialami rakyat Indonesia.

Di tengah perjalanannya menjadi garda depan perjuangan rakyat kecil, pada akhirnya PKI dijelmakan sebagai “setan” yang paling menakutkan. Dan oleh karenanya itu, PKI kemudian dilarang, hingga pengurus, anggota, serta simpatisannya dibasmi secara totalitas oleh kejamnya rezim berkuasa saat itu.

Tahun 1965 – 1966, menjadi babak awal lahirnya sejarah kelam bangsa ini. Pelarangan PKI yang berujung pada kekerasan hingga pembantaian massal terhadap para anggota dan simpatisannya, dijadikan momentum sebagai perlawanan terhadap kekafiran di bumi pertiwi. Anehnya, pembantaian demi pembantaian tersebut, justru hanya menjadi sepenggal sejarah yang tidak pernah terungkap secara rigit dan massif, terutama di jaman Orde Lama dan Orde Baru, bahkan mungkin hingga saat ini. Peristiwa pembantaian massal yang tidak hanya melibatkan PKI, melainkan juga militer, para penguasa negeri, serta kaum santri saat itu, justru merupakan peristiwa yang paling sedikit dipelajari. Minimnya sumber-sumber dan bahan yang memadai dalam pengkajiannya, terlebih karena adanya hambatan bernuansa politis di setiap penelitiannya, menjadi penyebab langkanya informasi seputar peristiwa berdarah tersebut.

Berangkat dari realitas inilah Hermawan Sulistyo kemudian menggambarkan dalam karyanya berjudul Palu Arit di Ladang Tebu sebagai sebuah sejarah pembantaian massal yang terlupakan (1965 – 1966). Karya ini sebenarnya merupakan terjemahan dari disertasi penulis dalam menempuh program doktornya di Arizona State University yang berjudul The Forgotten Years: The Missing History of Indonesia’s Mass Slaughter (Jombang – Kediri 1965 – 1966).

Karya ini tidak hanya berhasil mendobrak dan menghantam segala apa yang selama ini menjadi sejarah yang ditutup-tutupi rezim Orba, tetapi juga berhasil memberikan gambaran yang kritis tentang bagaimana kekejaman yang luar biasa (atrocity), pembasmian (pogrom), pembantaian yang sistematis (genocide), dan jenis-jenis pembunuhan massal lainnya terjadi (hlm. 77). Ironisnya, peristiwa ini secara sengaja dijadikan “tontonan” sepintas, kemudian hanya dianggap angin lalu begitu saja. Sungguh penghianatan sejarah bangsa.

Melalui penelitian panjang penulis yang memfokuskan penelitiannya di dua kabupaten Jawa Timur: Jombang dan Kediri sebagai daerah yang pernah “dikuasai” PKI, ditambah dengan balutan pengalaman hidup sebagai saksi hidup atas sepotong sejarah kelam bangsa ini, bukan hendak menyodorkan interpretasi baru atas peristiwa Gestapu, atau lebih luasnya tentang politik nasional, juga bukan tentang percobaan kudeta atau kontra kudeta atau mengenai operasi militer, bukan juga mengenai partai politik yang sempat menjadi perhatian besar bangsa ini, melainkan berusaha melukiskan dan menganalisis secara kritis beragam ketegangan dan konflik sosial yang mendahului terjadinya tragedi pasca-Gestapu.

Sampai hari ini, bukti yang bisa kita simak bahwa di Indonesia pernah kerusuhan yang melibatkan PKI, salah satunya film-film tentang sejarah Gerakan 30 September yang dianulir sebagai gerakan PKI. Sehingga, istilah G30S/PKI  menjadi istilah yang paten dan secara ironis diyakini oleh banyak kalangan, termasuk rakyat Indonesia sendiri. Tentang peristiwa berdarah pasca Gestapu hampir tidak pernah diungkap. Dalam diskusi-diskusi mahasiswa pun, mereka lebih gemar memperdebatkan tentang bagaimana Gestapu itu terjadi, siapa para pelakunya, tanpa pernah menyentuh persoalan tentang apa yang sebenarnya terjadi pasca tragedi tersebut.

Buku ini menjawab beberapa pertanyaan tentang apa saja yang memicu terjadinya pembunuhan missal? Apakah ada pola pembunuhan yang seragam? Benarkah tentara yang merancang operasinya? Seberapa jauh keterlibatan para kiai dan pemuda Ansor terlibat?

Untuk itu, melalui karya Hermawan Palu Arit di Ladang Tebu, tentunya rakyat Indonesia berharap bahwa sejarah kelam bangsa tidak akan pernah terungkap lagi untuk kali kedua.

Advertisements