Rima News, 12 Oktober 2013

rimanews-logo-web

Mahasiswa dan radikalisme seakan menjelma sebagai kesatuan yang holistik, menjadi “penganan” yang tiada henti dikonsumsi dan dinikmati setiap harinya. Sebagai “anak-anak muda”, kelabilan dalam bersikap serta emosi yang masih sukar dikendalikan, menjadi sebab utama mudahnya mahasiswa tersulut dalam gerakan-gerakan berbau radikalistik bernuansa kekerasan. Tak jarang, justru dijadikan sebagai trend (baca: gaya hidup) masa kini yang semakin hari semakin lumrah adanya.

Memang ada beragam anekdot yang sering kita dengar tentang klasifikasi seorang mahasiswa. Klasifikasi tersebut diraup dari apa yang menjadi kegiatan kesehariannya dalam menempuh pendidikan di dunia kampus. Sebut saja, mereka yang kerjaannya kuliah pulang-kuliah pulang, biasa disebut sebagai “Mahasiswa Kupu-Kupu”; yang kerjaannya kuliah rapat-kuliah rapat, disebut sebagai “Mahasiswa Kura-Kura”; dan yang kerjaannya kuliah nangkring di kantin, disebut sebagai “Mahasiswa Kucing”. Lantas, di mana letak trend radikalisme itu di tubuh mahasiswa?

Pada umumnya, radikalisme ada di setiap elemen masyarakat. Tidak hanya di kalangan kaum awam, bahkan para politisi yang sudah dianggap “matang” sekalipun bisa memiliki hal yang demikian. Namun, tak bisa kita pungkiri bahwa radikalisme yang paling berbahaya adalah radikalisme mahasiswa. Mengapa? Di satu sisi, mahasiswa memahami cara berpikir secara filsafat (radik). Di sisi lain, mahasiswa juga sangat potensial untuk disulut pada gerakan-gerakan radikalisme dengan sikap dan perilakunya yang kaku serta cenderung tak mau mengalah. Inilah yang mesti diwaspadai sebagai seorang mahasiswa.

 

Apa Itu Radikalisme?

Secara bahasa, radikalisme berasal dari kata “radik” yang berarti “mendasar”. Sedangkan radikal sendiri merupakan sebuah sikap atau cara berpikir secara mendasar sampai ke akar persoalannya. Secara harfiah, sikap semacam ini sangat keras dalam hal menentukan sebuah perubahan mana yang mesti dicanangkan dan mana yang tidak. Tentu juga, radikalisme sangat mungkin menjadi tantangan terberat terhadap persoalan penegakan hukum di Indonesia pada umumnya – ada logika yang menyatakan bahwa jika penegakan hukum melemah maka radikalisme akan menguat.

Di samping itu, radikalisme juga menjadi sebuah model bagaimana konsep Hak Asasi Manusia (HAM) disinyalir atas hak kebebasan aspirasi (hak mengemukakan pendapat) setiap warga Negara di ruang-ruang publik. Kita tahu bahwa menggunakan ruang-ruang publik, secara tak langsung menggunakan hak-hak orang lain, seperti hak kelancaran berlalu lintas atau hak orang lain untuk bebas dari rasa takut. Pertanyaannya, apakah dengan menggunakan radikalisme, apalagi di setiap pemenuhan hasrat diri pribadi, bisa dipastikan bahwa ide, pemikiran, dan perubahan dapat terselesaikan? Artinya, melaksanakan kehendak tentu harus dilakukan dengan cara dan metode yang tepat.

Radikalisme sebagai sebuah gerakan memang tidak lahir dari ruang hampa belaka. Pemetaan dan prosedur dilakukan dengan cara yang seksama. Tentunya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi berkembangnya radikalisme, yakni faktor sosial-politik, emosi keagamaan, budaya, ideologi, hingga pada kebijakan yang timpang.

Bagaimana Mahasiswa Menangkal Radikalisme?

Sebagai seorang pelopor dalam mengubah jalan dan arahnya sebuah sejarah bangsa ini, tentu mahasiswa senantiasa menggunakan apa yang mereka miliki sebagai landasan dalam berpijak: intelektualitas. Maraknya tindakan-tindakan radikalistik di kalangan mahasiswa – salah satu contohnya yang kerap terjadi di lingkungan kampus pada saat pentas demokrasi mahasiswa berlangsung seperti Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa) – hanya akan menyisakan beribu luka, serta harapan dan kekecewaan berlarut-larut tanpa akhir. Dan ini, justru akan menimbulkan beragam tanya bahwa apakah ketimpangan harus dijawab dengan ketimpangan yang serupa? Padahal, kita tahu bahwa posisi mahasiswa adalah sebagai problem solver (pemecah masalah) bukan pencari atau penambah masalah?

Memang, kondisi objektif bangsa ini sangat sarat akan keragaman, apalagi di lingkungan kampus. Beragamnya budaya, etnis, bahasa, hingga pada tataran paling sensitif sekalipun seperti ideologi, sangat mungkin menjadi pemicu lahirnya trend-trend radikalisme di kalangan mahasiswa. Sehingga, banyak pihak yang tidak bertanggungjawab justru menjadikannya sebagai sebuah peluang strategis untuk melancarkan politik adu dombanya seperti sentimen organisasi ataupun kedaerahan, yang semuanya bermuara pada sebuah sengketa kekuasaan belaka. Sentimen-sentimen semacam inilah yang kemudian dijadikan landasan untuk membenarkan radikalime bahkan pada tataran secara terang-terangan untuk meraup apa yang diinginkannya.

Karena itu, peran mahasiswa sendirilah yang sangat diharapkan dalam persoalan semacam ini. Sebagai kaum muda terpelajar, semestinya mahasiswa mampu menempatkan keberagaman sebagai sebuah hal yang semestinya diapresiasi, atau bahkan dijadikan sebagai pendidikan multi-kultur di kalangan mahasiswa sendiri. Dengan begitu, perbedaan akan senantiasa dipandang sebagai rahmat, bukan sebagai pemicu sebuah perpecahan.

Iklan