Qureta, 24 Februari 2016

Berjalan sendiri dalam gelap, kira-kira siapa di antara kita yang berani berlaku demikian? Sangat sedikit, bahkan hampir tak pernah saya temukan orang-orang yang mengambil tindakan itu—di luar konteks keterpaksaan. Selain (katanya) beresiko, pun tak ada gunanya alias buang-buang waktu atau sia-sia.Dalam gelap, umumnya orang beranggapan bahwa di sana kita tak bisa berbuat apa-apa. Jikapun ada yang bisa kita lakukan, pun itu sebatas hanya bisa menunggu nasib. Lebih dari itu tak ada. Dan jujur saja, saya pernah berpikir seperti ini.Adalah keberuntungan bahwa saya akhirnya berkenalan mesra dengan Rene Descartes. Dulu, saya hanya mengenal filsuf ini melalui diktum populernya: cogito ergo sum (aku berpikir, karena itu aku ada). Baru setelah membaca karyanya berjudul Discourse on Method (Diskursus & Metode, 2015),  saya akhirnya paham bahwa yang hendak ia gumamkan adalah kepercayaannya terhadap daya pikir (nalar) manusia.

Pada ranah inilah saya mulai berpikir untuk berani berpikir sendiri, bertindak, menilai, dan memutuskan atau menentukan pilihan-pilihan sendiri. Bahwa tanpanya, kita hanya hidup bak binatang atau mesin-mesin tanpa keutamaan.

Agaknya saya belum pernah menemukan karya terspektakuler daripada apa yang ditulis Descartes dalam Diskursus & Metode. Sebagai sebuah pengantar untuk ketiga esainya: Dioptrique, Meteores, dan Geometrie (bagian dari Traite du Monde), karya ini tentu tak hanya menarik secara tujuan: mencari kebenaran melalui ilmu-ilmu pengetahuan, melainkan karena sifatnya yang orisinil, ditulis berdasarkan hasil perenungan atau pemikiran sendiri (subjektif).

Bagi saya, model karya seperti inilah yang paling layak kita rujuk ketimbang karya-karya yang dibangun berdasar pengamatan secara empirik, hasil dari penggabungan beberapa pemikiran yang berbeda-beda. Sebagaimana yang Descartes renungkan, “…seringkali karya yang dikerjakan oleh satu orang lebih sempurna daripada yang dibentuk dari potongan-potongan yang dibuat oleh tangan beberapa pakar.”

Sebagai sebuah pengantar dalam mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan, Diskursus & Metode tak hanya menyoal beberapa bahasan perihal ilmu pengetahuan. Karya ini juga memuat beberapa kaidah-kaidah pokok tentang metode, juga tentang kaidah moral berdasar metode kesangsian.

Di samping itu, bukti-bukti keberadaan Tuhan dan jiwa manusia atau asas-asas metafisika, juga tentang masalah-masalah fisika secara umum, pun menjadi fokus bahasan dalam karya yang penuh tenaga ini.

Dalam membahas perihal ilmu pengetahuan, Descartes mula-mula memandang nalar sebagai hal yang paling merata di dunia. Artinya, setiap orang memiliki nalar secara merata dan alami. Persoalan munculnya keanekaragaman gagasan (output daya nalar), baginya, hanyalah soal cara bagaimana manusia menggunakan daya nalarnya.

Bahwa yang terpenting itu bukanlah terletak pada apakah kita memiliki daya nalar yang baik atau tinggi, tetapi apakah daya nalar tersebut kita gunakan secara baik. Saya kira inilah konsep hidup yang baik ala Descartes.

Tentang kaidah-kaidah pokok perihal metode, Descartes memulai perenungannya dengan berpikir bahwa kaidah-kaidah lama harus sama sekali kita tinggalkan. Baik itu bersumber dalam lingkungan keluarga atau masyarakat maupun ilmu atau pendidikan yang melembaga di sekolah-sekolah, kebanyakan hanya memuat argumen-argumen yang berdasar pada kemungkinan-kemungkinan tanpa pembuktian.

Jika hal ini tidak diretas, maka langkah untuk menggantinya dengan hal yang lebih baik atau yang sama tapi sesuai dengan nalar sendiri, adalah mustahil untuk kita lakukan. Hematnya, berpedoman pada nalar sendiri itu lebih akan menjadikan gagasan kita murni dan kokoh daripada hanya berpatokan pada “pemberian” semata.

Sebagai langkah konkretnya, Descartes menyusun empat prinsip sebagai metode berpikirnya. Pertama, ia tak mau membenarkan apapun yang tidak atau belum ia ketahui secara jelas bahwa itu memang benar. Artinya, sesuatu hanya bisa diterima sebagai benar jika sesuatu itu memang tampil secara jelas dan gamblang di dalam nalar, sehingga tak ada celah untuk meragukannya.

Kedua, ia harus mencari tahu secara detail apa-apa saja yang mungkin menjadi hambatan yang dapat mengganggu proses pencarian kebenaran. Satu per satu dari kesulitan itu harus dipilah dan ditelaah menjadi bagian-bagian kecil sebanyak mungkin atau sebanyak yang diperlukan. Ini berguna untuk memudahkan proses penyelesaian.

Ketiga, berpikir secara runtut (sistematis). Ia memulai sesuatu dari hal yang paling sederhana ke hal yang paling rumit, bahkan menata objek-objek yang secara alamiah tidak beraturan menjadi beraturan.

Keempat, memeriksa kembali hasil-hasil yang telah ia lakukan. Ini dibutuhkan untuk mengetahui apakah ada beberapa hal yang terlupakan atau tidak. Jika semua dirasa sudah cukup, barulah argumen (kebenaran) tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Tentang kaidah moral, metode yang digunakan Descartes adalah metode kesangsian. Meski rumusan kaidahnya bersifat sementara, tetapi ini harus dilalui sebagai bagian dari proses pencapaian tujuan. Ibarat membangun rumah, seseorang tidaklah cukup hanya dengan membongkarnya dan menyiapkan perencanaan dasar, ia juga tetap harus menyiapkan ruangan khusus yang juga harus nyaman sebagai tempat sementara selama proses pengerjaannya.

Beberapa kaidah tersebut adalah patuh terhadap kontrak sosial atau tradisi lingkungan sekitar. Selain itu, berpedoman hanya pada pendapat yang paling moderat dan paling jauh dari ekstrem yang dalam prakteknya diterima secara umum oleh orang-orang yang paling bijaksana di lingkungan sekitar. Artinya, kita berpegang hanya pada apa yang mereka lakukan, bukan pada apa yang mereka katakan.

Prinsip Descartes yang kedua adalah berlaku seperti pengembara yang tersesat di dalam hutan belantara: tak boleh berjalan tanpa arah, apalagi berhenti di suatu tempat; harus berjalan selurus mungkin ke satu arah, dan tidak mengubahnya demi alasan sepele. Melalui cara ini, jika memang kita tidak berhasil mencapai tempat yang hendak kita tuju, paling tidak kita bisa tiba di suatu tempat yang itu lebih baik daripada tetap di tengah hutan.

Prinsipnya yang ketiga adalah selalu berusaha mengalahkan nafsu (keinginan-keinginan) diri pribadi. Kita harus sadar bahwa batas kemampuan kita adalah batas sejauhmana daya pikir kita. Artinya, kita harus membiasakan diri untuk meyakini bahwa tak ada satupun kekuasaan yang dapat kita genggam sepenuhnya kecuali pikiran kita sendiri. Hal ini yang akan menjadikan kita terhindar dari nafsu keserakahan di luar batas kemampuan kita sendiri.

Dan akhirnya, prinsip moral Descartes yang terakhir adalah memutuskan untuk menelaah berbagai kegiatan yang biasa dilakukan orang dalam hidupnya supaya ia sendiri dapat memilih yang terbaik. Tanpa hendak mencemooh kegiatan orang lain, baginya sendiri, ia lebih baik melanjutkan kegiatan yang sedang ia lakukan, yakni mengembangkan nalar sepanjang hayat dan meneruskan penelitian tentang kebenaran sejauh mungkin sesuai dengan metode yang telah ia tetapkan sebelumnya.

Bahwa tiada kepuasan yang jauh lebih membahagiakan daripada apa yang kita dapat raih melalui pilihan dan metode yang kita putuskan sendiri. Lebih baik salah menurut cara sendiri, daripada benar menurut cara orang lain.

Demikianlah paparan singkat pemikiran Rene Descartes dalam Diskursus & Metode. Di sini saya tidak membahas perihal Tuhan dan jiwa manusia atau asas-asas metafisika serta fisika yang sebenarnya juga dipaparkan dalam buku tersebut. Saya memandang bahwa pembahasan yang terakhir ini lebih sebagai penyerta tulisannya, bukan sebagai keutamaan.

Tetapi yang terpenting yang harus kita ketahui dari membaca Diskursus & Metode adalah bahwa karya ini adalah jawaban Descartes atas pertanyaan “Hidup seperti apa yang akan kau lalui?”. Lebih jauh, karya ini hanya berpretensi untuk diri Descartes sendiri, bukan sesuatu hal yang harus diikuti semua orang. Ia sebatas mengungkapkan pikiran dan metode berpikirnya tanpa hendak mewajibkan apakah itu harus diikuti atau tidak. Selamat membaca dan berpikirlah!

Judul              : Diskursus & Metode
Penulis            : Rene Descartes
Penerbit          : IRCiSoD
Tahun             : 2015
Tebal              : 132 hlm; 14 x 20 cm
ISBN               : 978-602-255-770-8

Iklan