Proses membaca adalah proses memberi arti pada dunia – give meaning to world.

Makna dari kalimat di atas tak lain sebagai upaya penenakan bahwa ketika seseorang ingin memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan, proses belajar harus mereka lalui. Dan sebagian besar proses belajar ini bersumber utuh dari proses membaca.

Salah satu efek dari pemaknaan yang demikian itu, jelas memberi gambaran bahwa proses mendengar atau transisi dari sumber ilmu pengetahuan (biasa dari guru) tidak lagi relevan bagi perkembangan ilmu pengetahuan kita. Bahwa ia (belajar) hanya harus dicapai melalui proses membaca. Dari inilah masyarakat pembelajar akan tercipta—from reading society to learning society (Tilaar, 1999).

Terkait arti pentingnya membaca ini, tak jarang orang-orang bijak sering menyebut bahwa membaca adalah wujud pemenuhan kebutuhan hidup manusia, dalam arti “membaca untuk hidup”. Dan sebagai kebutuhan, tentulah bahwa ia (membaca) patut menjadi prioritas, kapan dan di mana pun manusia berada.

Adalah tamparan keras ketika muncul satu hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ranking minat baca masyarakat Indonesia hanya mampu bertengger di posisi 60 dari 61 negara yang diteliti alias nomor 2 (dua) dari belakang—persis di bawah Thailand dan di atas Bostwana. Hal ini sebagaimana Most Littered Nation in the World rilis berdasar studi penelitian yang dilakukan oleh John W. Miller, Presiden Central Connecticut State University, pada Maret 2016 lalu.

Jelas ini adalah kenyataan miris ketika kita mencoba menilainya dari sisi infrastruktur pendukung minat baca. Berdasar komponen infrastruktur ini, seperti diungkap oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, posisi Indonesia terbilang tinggi, yakni berada di urutan 34 di atas Jerman (Kompas, 29/08).

Alhasil, ini menunjukkan bahwa faktor minimnya minat baca lebih bersumber dari kurangnya pemanfaatan insfrastruktur. Dengan kata lain, indikator minat baca tak selalu terukur dari berapa banyak perpustakaan dan buku. Lebih bersumber dari faktor internal individu sendiri.

Meski demikian, saya tidak heran ketika minat baca itu menjangkiti sebagian besar masyarakat kita yang memang masih tergolong awam. Tapi saya, juga semua patut heran ketika itu terjadi di kalangan mahasiswa.

Mengapa? Ini bisa kita telaah dari fungsi dan peran mahasiswa yang sudah digariskan dalam kehidupan bermasyarakat—tentang fungsi dan peran mahasiswa, kiranya sudah banyak tulisan yang bisa kita rujuk.

Guna mempertegas isi tulisan ini, saya hanya akan menyoal budaya baca mahasiswa dari sisi pemaknaan, terutama pentingnya budaya baca itu sendiri. Ini terlepas apakah masyarakat kita atau mahasiswa sendiri memang minim dalam hal minat bacanya. Aspek ini biarlah menjadi refleksi kita masing-masing.

Pentingnya Budaya Baca

Patut dipertanyakan memang ketika budaya baca sama sekali tidak tersemai dalam aktivitas keseharian kita yang notabene sebagai kaum intelektual-terpelajar (mahasiswa). Padahal, ketika mampu menelaah betapa pentingnya budaya baca sebagai satu proses pemenuhan utama kebutuhan hidup, saya kira di antara kita tidak akan ada lagi yang menafikan atau memicingkan mata atas baca-membaca ini.

Mengapa kita harus membaca?

Setidaknya ada tiga tujuan yang patut saya gambarkan di awal. Di antaranya: (1) membaca untuk mendapatkan informasi; (2) membaca untuk hiburan; (3) membaca untuk membangun dan meningkatkan keilmuan.

Tujuan pertama, yakni membaca untuk mendapatkan informasi, saya kira aktivitas ini adalah rutinitas masyarakat kita secara umum. Dari pagi hingga menjelang tidur, hampir tiap orang selalu dicecoki informasi-informasi yang beragam. Baik itu datangnya dari berita-berita koran harian (surat kabar cetak/online), atau status-status di media-media sosial seperti facebook dan twitter.

Adapun tujuan kedua, yakni membaca untuk hiburan, ini sama halnya dengan membaca secara kanak-kanak. Anehnya, seperti tujuan pertama di atas, rutinitas semacam ini juga sangat mewarnai aktivitas keseharian kita.

Sungguh, meminjam gumam Gustave Flaubert (novelis asal Perancis), jangan membaca seperti kanak-kanak dengan maksud menghibur diri. Jangan membaca seperti orang ambisius dengan maksud untuk mencari bahan pengajaran. Tetapi membacalah untuk hidup. Inilah yang dimaksud membaca untuk membangun dan meningkatkan keilmuan. Sebab dengan keilmuan yang memadai, orang akan mampu berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakatnya, baik secara sosial, terlebih secara politik.

Meski demikian, ketiga tujuan di atas kiranya sangat ideal untuk kita budayakan bersama. Namun, sebagai bentuk ideal, tentu prosesnya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang panjang untuk mendesiminasikannya sebagai satu budaya. Terutama tujuan nomor 3 (tiga), yang memang sifatnya terlalu serius dan hanya dilakukan jika sedang sibuk menyelesaikan tugas, atau tuntutan-tuntutan lain yang mengharuskan kita untuk membaca.

Menurut Edward Gibbon, kegunaan membaca adalah membantu kita untuk berpikir. Dengan membaca, seseorang dapat memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan, terangsang kreatifitasnya, mendorong timbulnya keinginan untuk dapat berpikir kritis dan sistematis, memperluas serta memperkaya wawasan hingga membentuk kepribadian yang unggul dan kompetitif.

Secara sepintas, kegiatan membaca memang sangat mudah dan sederhana. Hanya dengan bermodalkan kemampuan mengeja huruf demi huruf, atau gampangnya, mereka yang pernah duduk di bangku sekolah, secara pasti hampir bisa dikatakan mampu untuk membaca.

Hanya saja, ketika kegiatan semacam ini ditarik ke dalam konteks maknanya yang paling dalam, yakni “membaca untuk hidup”, maka kegiatan ini butuh modal yang jauh lebih besar. Modal itu harus melebihi dari sekadar kemampuan dasar seperti di atas.

Saya pernah mendengar penuturan bahwa membaca adalah sumber belajar yang paling lengkap, paling tersedia, paling murah, paling cepat, dan paling mutakhir. Hanya saja, sungguh keliru jika kita membaca dengan hanya menghendaki wawasan dan pengetahuan yang luas tanpa menjadikannya sebagai spirit hidup sebagai bagian dari civil society.

Sekali lagi, jangan membaca seperti kanak-kanak dengan maksud untuk menghibur diri. Jangan membaca seperti orang ambisius dengan maksud untuk mencari bahan pengajaran. Tetapi membacalah untuk hidup.

Ya, kita membaca untuk bagaimana kita mampu meningkatkan kualitas dan mutu kehidupan kita. Kita membaca sebab kita tahu bahwa itu adalah kunci sukses suatu kemajuan.

Tidakkah semakin tinggi tradisi membaca suatu bangsa, maka semakin tinggi pula tingkat kualitas dan mutu kehidupannya? Dan bangsa Jepang saya kira bisa menjadi contoh paling tepat dalam hal ini.

Berkat suburnya tradisi membaca di kalangan masyarakat Jepang, mereka akhirnya mampu mengejar ketertinggalan, mengejar kemajuan yang sudah lama hinggap di bangsa-bangsa barat—konon, di kereta api misalnya, hanya ada dua pemandangan yang bisa kita lihat dari kehidupan mereka: orang yang membaca dan orang yang tidur. Satu fakta yang sangat jarang kita temukan, terutama di Indonesia.

Fenomena kemajuan karena kuatnya tradisi membaca ini jelas berhasil menunjukkan kepada kita betapa dunia ide yang tercetak dalam sebuah buku menjadi daya pendorong yang kuat bagi majunya peradaban.

Jangan nilai dari fisik bukunya, tetapi nilailah buku itu dari maknanya yang fungsional. Bahwa fungsinya jauh lebih dahsyat di mana ide yang tertuang di dalamnya benar-benar mampu menggerakkan. Daya semacam inilah yang saya kira tidak dapat kita temukan dari sekadar menonton televisi atau mendengarkan musik, apalagi bermain gadget.

Memang ada banyak pakar (intelektual) yang telah berusaha memberi definisi tentang kegiatan membaca ini. Ahmad Wahib misalnya pernah menulis, “Aku membaca bukan hanya untuk tahu. Aku juga ingin bahwa apa yang ku baca itu ikut membentuk sebagian dari pandanganku…. Permainan yang tak akan pernah selesai ini sangat mengasyikkan.”

Atau Cak Nur, “Membaca adalah kegiatan manusia yang paling produktif… Karena tuhan mengajari manusia dengan pena, maka tanpa membaca manusia tidak akan banyak belajar.

Tetapi di sini bukan hal yang substansial bagi saya untuk mendebat satu per satu definisi tersebut. Sebab yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana menjadikan membaca sebagai sebuah budaya yang memiliki kontribusi nyata bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat (peradaban manusia).

Terakhir, sebagai manusia pembelajar, mari berhenti untuk menggerutu, apalagi berpasrah diri. Sudah saatnya kita membaca, membaca untuk hidup.

Membacalah, membaca apa saja. Jika toh tak ada perubahan apa-apa yang kita dapatkan, membacalah lagi. Sebab hanya dengan membaca kita mampu mengetahui dunia, dan hanya dengan menulis kita mampu mempengaruhinya.

Qureta, 22 Maret 2017

Iklan