Kira-kira 20 tahun lalu, di malam itu, dan untuk pertama kalinya, kita bertemu. Secara fisik? Tentu saja. Sebab lama sudah kukenal dirimu lewat karya-karya, tulisan-tulisan, yang sangat pasti kau tak menyadarinya.

Baru sejenak saja kita berbincang, rasanya sudah melahirkan ribuan kesan. Tak peduli apakah dirimu juga demikian. Yang jelas, aku merasakan kehangatan dari sorot sosokmu.

Esoknya, terus kebuntuti kau dari jauh. Aku mencari, merayapi apa-apa yang orang ketahui tentang dirimu. Dari karibku kutemukan, dirimu memang pantas untuk kupuja. Lalu kukenanglah pertemuan kita yang walau sejenak itu.

Lama, tak ada kabar. Aku sudah hampir melupa. Tapi tiba-tiba kau menghubungi, “Hei, mau ikut aku dalam pelatihan tari?”

Tanpa berpikir panjang, aku mengisyaratkan IYA. “Kapan?”

“Minggu ini, hanya 3 hari saja.”

Kau tahu betapa batinku begitu riang? Hingga jelang malam, temaram bulan tak kuhirau lagi. Aku menunggu saat-saat perjumpaan kembali.

Nahas bagiku, selama pelatihan tari, kau terlalu cuek. Tiada kata juga pandang mata yang pernah kutemu tertuju langsung untuk diriku. Jikapun ada, kesannya hanya formal belaka. Padahal yang kuharap adalah keintiman. Semua sungguh nahas.

Usai kegiatan, kau menghubungiku lagi. Kau ajak aku ke tempat yang sebelumnya tak pernah kusinggah. Tapi aku sangat beriang-hati, karena dirimu.

Lagi-lagi nahas. Tak kudapati juga keintiman yang kuharap. “Ah, payah!” curahku. Kesal!

Kau pergi, berlalu tanpa kesan elok yang tersisa.

Iklan