Narasi Eksistensial


Kira-kira 20 tahun lalu, di malam itu, dan untuk pertama kalinya, kita bertemu. Secara fisik? Tentu saja. Sebab lama sudah kukenal dirimu lewat karya-karya, tulisan-tulisan, yang sangat pasti kau tak menyadarinya.

Baru sejenak saja kita berbincang, rasanya sudah melahirkan ribuan kesan. Tak peduli apakah dirimu juga demikian. Yang jelas, aku merasakan kehangatan dari sorot sosokmu.

Esoknya, terus kebuntuti kau dari jauh. Aku mencari, merayapi apa-apa yang orang ketahui tentang dirimu. Dari karibku kutemukan, dirimu memang pantas untuk kupuja. Lalu kukenanglah pertemuan kita yang walau sejenak itu.

Lama, tak ada kabar. Aku sudah hampir melupa. Tapi tiba-tiba kau menghubungi, “Hei, mau ikut aku dalam pelatihan tari?”

Tanpa berpikir panjang, aku mengisyaratkan IYA. “Kapan?”

“Minggu ini, hanya 3 hari saja.”

Kau tahu betapa batinku begitu riang? Hingga jelang malam, temaram bulan tak kuhirau lagi. Aku menunggu saat-saat perjumpaan kembali.

Nahas bagiku, selama pelatihan tari, kau terlalu cuek. Tiada kata juga pandang mata yang pernah kutemu tertuju langsung untuk diriku. Jikapun ada, kesannya hanya formal belaka. Padahal yang kuharap adalah keintiman. Semua sungguh nahas.

Usai kegiatan, kau menghubungiku lagi. Kau ajak aku ke tempat yang sebelumnya tak pernah kusinggah. Tapi aku sangat beriang-hati, karena dirimu.

Lagi-lagi nahas. Tak kudapati juga keintiman yang kuharap. “Ah, payah!” curahku. Kesal!

Kau pergi, berlalu tanpa kesan elok yang tersisa.

Iklan

Melalui Narasi Eksistensial ini, kan kukisakan semua hal-hal yang pernah terjadi; antara kita, hanya tentang kita, dan semua-semua yang kini sudah sirna.

Sebenarnya tak kuasa. Tapi ada satu kekuatan besar yang mendorongku untuk berkisah. Hanya saja, tentang itu, tak perlu kautahu. Cukup renung dan bayangkan saja apakah kisah-kisah ini memang nyata terjadi di kehidupan kita yang sudah lalu itu.

Ini sekadar pengantar. Semua akan menyusul tepat pada waktunya.

Mampus kau dikoyak ambisi
Bahkan puing pun tak jua bisa kau genggam lagi

Sebelum ambisi yang lain mengoyakmu kembali
Baiknya dirimu kau bawa lari
Ajak-serta sesalmu yang tiada arti

(Jogja, 19 Oktober 2017)

Jesus-Writing

Sini, dear
Kuceritai kau tentang kampung halamanku
Tempat diriku lahir, dibesarkan, dan lalu kutinggal barang sejenak

Tak seelok memang seperti citamu
Hanya karena kau memperbandingkannya dengan yang permai-permai di timur jauh sana
Tempat kasihmu berlabuh juga mimpi-mimpi
Mungkin sebab itulah kau pilih pergi lalu menghilang

Tapi, ingat-ingat saja
Rinduku untuknya jauh lebih besar ketimbang untukmu
Ya, mungkin seperti rindumu juga pada yang permai-permai di pelupuk mata telanjangmu itu
Lalu apa peduliku?

Sini…
Kuceritai kau tentang spiritualitasku juga
Tentang siapa panutan yang kupilih jadi arah
Tentang di mana jejak-jejak langkah ini akan tertuju

Tak mesti orang-orang suci memang
Tak mesti pula benih-benih yang bagimu mungkin beri hangat dan semerbak wangi surga
Hanya ini: siapa berani menantang angin, di sana aku berdiri
Siapa yang tak mendua, tepat di sampingnyalah aku tegak sebagai kawan

Jika kelak ia berbelok, kupastikan mengarahkannya tanpa paksa
Jika tak bisa-bisa juga, maka kupastikan lagi untuk membiarkannya saja
Hidup bebas, tetap itu yang kupilih
Tak mesti harus menjalaninya sekaku langkahmu

Sini, dear
Kuceritai kau lagi tentang inspirasi sajak-sajakku

Limpahan sedih memang besar beri pengaruh
Tak bisa kuelak hingga terpaksa harus menutup-nutupi
Hanya ingin melepas hantu-hantu bersemayam bersosok dirimu
Memihak pada apa yang memang pantas
Bukan pada hal yang masih serba-mungkin

Sini, dear, semakin mendekatlah
Sebab akan kuceritai kau juga tentang mimpi-mimpiku
Tentang alasan keber-ada-an

Yang kupilih memang yang agung-agung
Sebab pesimis sepertimu buatku muak
Yang gemar bersandar saja pada yang sedih-sedih
Pada yang absurd meski dengan topangan kata-kata indah

Persetanlah dengan ancaman
Bukan masalah jika mau kau tempatkan cerita-cerita ini di rak-rakmu hingga berdebu
Rasa enggan dan malasku tak mungkin akan lahir hanya karena itu
Aku sudah kuat walau masih dalam muak

Tapi, meski begitu, dear
Biar kau menyinyirku terus tak henti-henti
Tetap saja kan kurindu dirimu tak usai-usai
Mohon catat-ingat itu sampai mati

Merdeka?
Merdeka dari mana?
Bagiku hanya mitos
Perayaannya cuma basa-basi
Lalu itu kembali hilang

Merdeka?
Merdeka dari apa?
Bagiku hanya lamunan
Peramaiannya cuma penggembira
Lalu itu kembali sedih

Merdeka?
Aku tak suka yang seperti itu!

Laman Berikutnya »