Resensi


Kapan suatu pemerintahan layak kita dukung, dan kapan tidak? Siapa yang harus menghakimi, dan dengan kriteria apa, serta apakah hukum dan tindakan negara kita hari ini sudah memenuhi standar harapan bersama?

Asas Moral dalam Politik (Jakarta: Buku Obor – Freedom Institute, 2006) karya Ian Shapiro menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut secara komprehensif. Di buku yang sebelumnya merupakan seri kuliah The Moral Foundations of Politics Ian di Yale University sejak awal 1980-an, pertama-tama menegaskan bahwa kewenangan politik tidak boleh membenarkan pencarian dan penangkapan ilegal, termasuk penjatuhan hukuman terhadap individu/kelompok tanpa proses pengadilan.

Kewenangan politik yang dimaksud juga tidak dibolehkan menyusun undang-undang atau hukum post-hoc, meski disesuaikan dengan kasus-kasus tertentu sebagaimana langkah yang sama pernah diambil dalam kasus seorang perwira di Era Nazi bernama Adolf Eichmann.

Jika seperti itu, meminjam paham dari Hannah Arendt, tindakan tersebut adalah tindakan yang apolitis; tidak ada pembenarannya dalam sejarah. Itu merupakan kejahatan moral paling keji.

Lantas, kewenangan politik seperti yang apa yang legitimate, absah, masuk akal, yang pantas kita dukung dan benarkan? Sterling Professor of Political Science pada Yale University tersebut memulainya dari tradisi politik utilitarian.

Tradisi ini, secara gagasan, didasarkan pada pandangan Jeremy Bentham dengan karyanya berjudul Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789). Karya inilah yang kini menjadi rujukan klasik ketika berbicara tentang tradisi politik utilitarian.

Menurut para pengusungnya, legitimasi politik tergantung pada kesediaan dan kapasitasnya untuk memaksimalkan kebahagiaan. Meski konsep “kebahagiaan” itu sendiri masih simpang-siur, tetapi kaum utilitarian sendiri bersepakat kata: kebahagiaan terbesar bagi sebanyak orang mungkin.

Bahasan ini kemudian berlanjut ke tradisi politik Marxis. Dalam menjawab pertanyaan terkait legitimasi politik, bangunannya diarahkan pada gagasan eksploitasi sebagai tolok ukurnya.

Meski soal eksploitasi sendiri masih buram, sebagaimana konsep “kebahagiaan” dalam pandangan kaum utilitarian, tetapi satu hal yang pasti dari tradisi politik ini: institusi-insitusi politik tidak punya legitimasi ketika mereka mendukung eksploitasi dan memperolehnya ketika mereka memperjuangkan kebalikannya, yakni kebebasan manusia.

Tentu, bersama-sama kita tahu, sejarah belum pernah membuktikan keampuhan eksistensi tradisi politik Marxis ini. Bahkan sejak Karl Marx menggagas idenya tentang masyarakat tanpa kelas, berlanjut ke sosialisme hingga komunisme.

Selanjutnya, pencarian jawaban terkait legitimasi politik terarah ke tradisi politik kontraktarian (penganut teori Kontrak Sosial). Standar ajarannya berakar pada Leviathan (1651) karya Thomas Hobbes dan Second Treatise on Goverment karya John Locke (1680).

Mengacu kepada dua Bapak Kebebasan di atas, kaum kontraktarian kemudian merumuskan bahwa legitimasi politik mesti bertitik pada gagasan tentang kesepakatan; kesepakatan dari yang diperintah merupakan sumber legitimasinya. Sejauh mencerminkan kesepakatan bersama, legitimasi politik adalah absah. Jika sebaliknya, maka yang “diperintah” bebas bahkan diharuskan menolaknya.

Sayangnya, ketiga tradisi politik yang punya fokus berbeda tentang legitimasi politik di atas, pada akhirnya saling tindih-menindih. Ian mencatat, faktor ini lebih banyak disebabkan oleh hadirnya politik Pencerahan.

Sebagai gerakan filsafat, politik Pencerahan berupaya merasionalisasi kehidupan sosial. Ide kebebasan manusia dilandaskan pada prinsip-prinsip ilmiah—gagasan Pencerahan ini bisa kita acu dari filsuf Eropa, seperti Rene Descartes, Gottfried Leibnitz, Benedict Spinoza, dan Imanuel Kant; yang sebenarnya juga sangat dipengaruhi oleh para filsuf Inggris, seperti John Locke, George Berkeley, dan David Hume.

Proyek Pencerahan ini, ide kebebasan manusia, terungkap jelas (terutama) dalam doktrin politik tentang hak-hak individu; juga sains. Nilai-nilai dari Pencerahan inilah yang kemudian membentuk-mempengaruhi tradisi politik utilitarian, Marxis, dan kontraktarian. Ini pun menjadi jawaban mengapa ketiga tradisi sebelumnya itu saling tindih-menindih.

Akibatnya, terlepas dari para pengecam atau kritikus Pencerahan, ketiga tradisi politik tersebut pada akhirnya gagal sebagai doktrin politik. Pencerahan kemudian menjadi asas “tunggal”.

Menyadari itu, muncul pertanyaan: tradisi politik seperti apa yang paling baik dalam mewujudkan proyek dan nilai dari Pencerahan? Jawabannya tegas: DEMOKRASI—sebuah tradisi politik yang berakar kuat dari Jean-Jacques Rousseau tentang “Kehendak Umum” dalam The Social Contract (1762).

Seperti dalam tradisi-tradisi politik sebelumnya, para demokrat sendiri pun banyak berbeda paham. Seperti misalnya tentang bagaimana pemerintah dan oposisi harus diatur, siapa yang berhak memilih, bagaimana suara mereka harus dihitung, dan batasan-batasan apa, kalau ada, yang harus diterapkan pada keputusan-keputusan demokratis.

Meski demikian, berbeda secara paham, komitmen mereka tetap sama: prosedur demokratis sebagai sumber legitimasi politik paling layak.

Mengapa? Sebab demokrasi senantiasa menawarkan sumber daya yang lebih baik ketimbang tradisi politik pendahulunya (utilitarian, Marxis, kontraktarian, termasuk yang anti-Pencerahan). Ia (demokrasi) memastikan, klaim politis maupun lawannya, kebenarannya harus sama-sama diuji di arena publik (pengadilan) tanpa kecuali.

Dengan begitu, hak-hak individu/kelompok terlindungi sebagai perwujudan paling baik dari ide KEBEBASAN manusia. Karenanya, dukungan terhadap tradisi politik demokrasi (hampir) tidak bisa kita tawar-tawar lagi.

Advertisements

Buku-buku adalah rumahku.
Mereka memberiku keteduhan
dari teriknya panas di musim kemarau.
Mereka membentengiku
dari dinginnya angin di musim penghujan.
Buku-buku adalah rumahku.
Mereka adalah pelindung setiaku.

~ Gubahan dari kata-kata Carlos Brauer

sampul-bukuSemua bermula dari La linea de sombra. Buku terjemahan Spanyol The Shadow-Line karya Joseph Conrad ini menjadi awal bagi seorang novelis kenamaan, Carlos Maria Dominguez, mengisahkan novel mungilnya Rumah Kertas—terbit pertama kali pada 2002 di Montevideo, Uruguay, dengan judul asli La casa de papel.

Sebagai upaya meresensi karya mungil ini, saya akan memantiknya melalui satu pertanyaan sederhana: apa yang bisa kita petik dari novel yang hanya berkisar 76 halaman ini? Sungguh, sebuah karya tidak patut diukur dari segi kuantitas berupa ketebalan halamannya, melainkan kuantitas dari segi bobot idenya.

Sebagaimana penilaian yang diberikan oleh Critiques Libres di bagian endorsement, buku ini memuat beragam kisah yang tak mungkin bisa terlupakan begitu saja. Mulai dari kisah dunia sastra abad 19 dan 20, ragam bentuk dan kegunaan perpustakaan dari para bibliofil diutarakan. Dan yang utama adalah fenomena kecintaan yang teramat sangat dari para pencinta buku tulen. Semua kisah-kisah ini yang kemudian menjelmakan mahakarya Carlos Maria Dominguez sebagai novel yang hanya diperuntukkan untuk dibaca berulang kali.

Ya, novel tipis ini memang mampu menghantui para pembacanya, bahkan jauh sesudah ia ditutup rapat. Buka dan lalu dibaca kembali, begitu seterusnya, sampai buku ini sendiri lelah untuk disenggamai sesering mungkin oleh si pembaca.

Ruang Inspiratif

Ada banyak hal yang bisa kita jadikan inspirasi dari gagasan besar seorang novelis kelahiran Buenos Aires, Argentina, 1955 ini. Di antaranya adalah bagaimana kita, khususnya sebagai penikmat (pembaca), memperlakukan buku sebagaimana layaknya. Buku bukan barang antik yang harus kita koleksi hanya sekadar sebagai pajangan atau hiasan, atau sekadar ingin tampil sebagai yang intelek di hadapan publik.

Tetapi jauh daripada itu, sebagaimana diungkap si penulis saat mengunjungi kembali kota kelahirannya dan mendapati kota itu lebih kemilau dan modern. Dan tentu saja, ini efek dari tidak arifnya kita dalam memposisikan kecanggihan alat-alat teknologi itu.

Orang-orang kota berjalan dengan ponsel menempel di telinga dan menyetir mobil dengan gawai menggelantung di pundak. Mereka berbicara ke alat itu di kerumunan, di supermarket, bahkan saat sedang menyapu trotoar, seakan-akan wabah kelisanan telah mengambil alih hidup mereka. (hlm. 13)

Selain sebagai medium perlawanan atas budaya lisan, fungsi sebuah buku juga tidak kita butuhkan selain hanya untuk mempelajari dan memahaminya. Hal ini sebagaimana dimunculkan dari dua tokoh utamanya, yakni Agustin Delgado dan Carlos Brauer, yang sepanjang hidupnya membangun koleksi perpustakaan dan sanggup mengeluarkan uang berlebih hanya untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam.

Mengapa harus demikian? Kiranya patut kita renungkan kata-kata Delgado ketika ia berujar bahwa membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan (hlm. 26).

…seorang pembaca adalah pengelana dalam lanskap yang sudah jadi. Dan lanskap itu tak berkesudahan… Dan kebagiaan terbesar saya adalah bisa membenamkan diri, sekian jam sehari saja, dalam waktu kemanusiaan ini, yang bila tidak demikian akan terasa asing bagi saya. Seumur hidup tidaklah cukup untuk ini. Meminjam separuh kalimat Borges: perpustakaan adalah pintu memasuki waktu. (hlm. 31).

Ya, spirit kecintaan akan buku dari Delgado patut kita rayakan sebagai satu inspirasi yang luar biasa. Ia tidak butuh dan tertarik sepenuhnya pada buku-buku edisi pertama. Yang ia inginkan hanyalah buku yang terjangkau dengan kondisi sebaik mungkin. Jika tidak, baginya, ia akan gelisah terus-terusan.

Hal ini tentu harus kita aminkan secara bersama. Sebab mustahil suatu bangsa mampu meningkatkan budaya literasi sebagai ujung tombak pembangunan tanpa berlandas pada kecintaan penuh pada buku-buku. Seperti Delgado, kita pun harus mengeluhkan waktu buat membaca yang terlalu sedikit (hlm. 31).

Sebuah Semesta

Hal menarik lainnya yang juga patut kita jadikan sebagai inspirasi adalah Carlos Brauer. Sebagaimana dikisahkan oleh Delgado rekan karibnya, Brauer lebih gila lagi dalam mencintai buku. Ia kutu buku. Berapa pun uang yang ia punya, ia belanjakan hanya buat buku.

Brauer punya banyak koleksi (saya yakin lebih dari dua puluh ribu). Sampai-sampai ruang tamunya, yang sama sekali tidak kecil, akhirnya penuh dengan rak-rak. Bahkan kamar mandinya berisi buku di tiap dindingnya, kecuali di dinding tempat pancuran air. (hlm. 30).

Meski keduanya sama-sama bibliofil tulen, tetapi perlakuan mereka atas buku sama sekali bertolak-belakang. Bisa dikatakan bahwa Delgado lebih damai dalam memperlakukan buku, sedang Brauer terkesan anarkis atasnya.

Saya sering memohon pada Brauer untuk tidak merusak edisi berharga dengan tulisan cakar ayamnya… Saya menyebutnya tak peka, dan dia menyebut saya sok suci… Ia berkata bahwa dengan menulis marjin-marjinnya dan menggaris bawahi kata-katanya, akan lebih mudah menangkap maknanya… Katanya, ‘Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme’… Sebaliknya buat saya, buku dicoret-coret selalu terasa brutal. Saya merasakan suka cita yang luar biasa saat membuka buku dan mendapati tidak ada ujung yang tertekuk… (hlm. 32).

Apapun itu, kisah dalam Rumah Kertas terasa jelas membawa kita ke semesta buku yang sungguh-sungguh luas. Beragam karya sastra ternama ditampilkan di dalamnya, mulai dari sejarah klasik seperti sastra Rusia abad 19, koleksi sastra Amerika, naskah-naskah teater Yunani dan sandiwara zaman Elizabeth, hingga beberapa buku langka Meksiko dari para penulis seperti Arlt, Borges, Vallejo, Onetti, dan Valle-Inclan. Belum lagi ensiklopedi dan buku-buku karya orang yang pernah mengarungi Rio de la Plata. Semua ditampilkan di hampir setiap paragram Rumah Kertas.

Terakhir, novel mungil Carlos Maria Dominguez ini tentu tak hanya wajib dibaca para pencinta buku tulen seperti Brauer yang memilih untuk menjadikan koleksi pribadinya sebagai rumah hunian, tidak hanya layak dibaca oleh para pustakawan, tetapi juga layak dibaca sebagai rujukan oleh para penggila sastra-sastra kuno. Sebab di dalamnya, seperti disebutkan di atas, hampir semua karya sastra dimunculkan di setiap paragraf penulisannya. Selamat berjelajah!

Judul: Rumah Kertas
Judul Asli: La casa de papel
Penulis: Carlos Maria Dominguez
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri, Cet. I September 2016
Tebal: 76 hlm.

Qureta, 15 Juli 2016

tyrion_lannister

Sungguh ada banyak orang di dunia ini yang mampu memberi kita inspirasi atau pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup. Saking banyaknya, kita tentu tak perlu lagi bersusah-susah menuntut ilmu sampai ke negeri Cina sebagaimana anjuran Nabi. Cukup sekali “klik”, maka orang beserta inspirasi berupa pelajarannya itu pun akan muncul.

Kita hanya dituntut untuk memilih. Yang terbaik di antara yang terbaik, itulah yang harus kita jadikan pedoman. Sayangnya, kita cenderung membuat penyempitan ruang atau sumber belajar kita sendiri. Hanya karena tak suka dengan siapa yang berbicara, mungkin ia jelek, miskin, atau apalah yang sejenisnya itu, kita lalu abai terhadap apa yang disampaikannya.

Ya, kita masih cenderung melihat siapa yang berbicara, bukan pada apa yang ia bicarakan. Kita masih cenderung gandrung pada satu sosok pribadi seseorang hanya karena faktor fisiknya, bukan pada ide besar yang digagasnya. Lalu apa yang bisa kita dapat dari sikap semacam itu? Sebuah upaya menipu diri sendiri.

Tyrion Lannister adalah salah satu sosok yang bisa kita jadikan ucapan dan tindakannya (ide besarnya) sebagai sumber inspirasi untuk hidup. Meski ditampilkan secara fiktif dalam serial film berjudul Game of Thrones—sebuah drama fantasi David Benioff dan D.B. Weiss yang diadaptasi dari novel A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin yang tayang sejak April 2011 di HBO, Amerika Serikat, tak berarti bahwa dirinya, terutama ide besar yang ia bawa, harus kita tempatkan sebagai inspirasi yang fiktif pula. Berlaku demikian, berarti lagi-lagi kita hanya akan menyempitkan ruang atau sumber belajar kita sendiri.

Mengenal Lebih Dekat

Game of Thrones merupakan film fantasi yang berkisah tentang 7 Great House (atau The Seven Kingdoms) yang selalu berbalut kecamuk hanya karena memperebutkan kekuasaan, yakni “The Iron Throne”. Kekuasaan yang berkedudukan di Westeros King’s Landing ini, di tiap episodenya, hampir tak pernah mengabsenkan intrik dan kelicikan, persekongkolan, penghianatan, hingga peperangan dan percintaan “terlarang”. Semua upaya “kotor” itu digaungkan hanya demi menggapai impian dapat duduk sebagai penguasa di  “Tahta Besi”.

Dalam situasi yang saling rebut-merebut tahta seperti itu, di sanalah seorang Tyrion Lannister lahir dan dibesarkan. Meski hidup tanpa pernah merasakan belaian kasih sayang seorang ibu—ibunya meninggal pasca kelahirannya, ia tumbuh menjadi Lannister sejati, di mana peran utama klan ini adalah menjabat sebagai tumpuan pertahanan utama King’s Landing. Mempertahankan King’s Landing dari serangan Stannis Baratheon menjadi bukti tersendiri akan hal itu.

Anak bungsu dari Tywin Lannister ini punya saudara laki-laki bernama Jamie Lannister. Ia adalah seorang Kingsguard yang membunuh The Mad King lantaran dianggap telah keluar jalur sebagai sang raja. Karenanya ia dijuluki sebagai “Kinglayer”.

Saudara perempuannya bernama Cersei Lannister, Ratu dari King Robert Baratheon sepeninggal The Mad King. Sosok ibu ini sangat sayang pada anak-anaknya, tetapi tidak pada yang lain. Ia penuh benci, dengki juga dendam.

Tyrion Lannister, meski tumbuh sebagai seorang bangsawan dan klan penguasa, ia justru punya sosok yang begitu unik jika dibanding dengan saudaranya yang lain. Disebut unik sebab sikap dan tindakannya sama sekali berbeda dengan sikap dan tindakan seorang bangsawan pada umumnya.

Dan terus terang saya melahap habis film fantasi yang (masih) terdiri dari 6 sesi dengan 10 episode di masing-masing serinya ini hanya karena sosok bijak seorang Tryon. Ia seorang yang pragmatis, pemabuk berat, dan gemar bersembunyi di antara sela payudara para pelacurnya. Dan ia punya alasan tersendiri atas sikap dan perilakunya yang demikian.

Lebih dari itu, sungguh ia seorang yang cerdas dan tak percaya takhayul alias logis. Ia hanya percaya pada akal dan kemampuan yang ia percaya tumbuh pada dirinya. Kecerdasan, intelektualitas, serta filosofi, berada satu paket dalam dirinya yang selalu optimis. Bisa dikatakan, pergerakannyalah yang paling dramatis dan amazing di Game of Thrones.

Sekali lagi, meski perawakannya yang tak seberapa itu jika dibanding orang pada umumnya, tetapi daya berpikirnya sungguh jauh melampaui perawakan tubuh kecilnya sendiri. Mungkin inilah yang orang sering sebut bahwa orang besar dinilai bukan dari fisiknya yang besar, melainkan dari pemikirannya yang besar. Begitulah “Si Anak Nakal” ini tampil di hadapan saya.

Bercinta dengan Buku

Salah satu adegan yang paling menyentuh saya ketika melihat sikap dan pandangan seorang Tyrion ini adalah saat ia berbincang dengan John Snow, salah seorang anggota keluarga dari klan Stark, klan penguasa di Winterfell. Kala itu mereka hendak berkunjung ke Night’s Watch, tempat orang-orang “terbuang” yang mengabdikan dirinya sebagai penjaga The Wall (tembok besar di wilayah perbatasan Utara-Selatan).

Di sela perjalanan mereka, di saat yang lain sibuk untuk melepas kantuk, dahaga dan rasa lelah akibat perjalanan panjang, Tyrion selalu terlihat sibuk membuka lembaran demi lembaran dari bukunya. Persis seperti seorang laki-laki yang sedang membelai halus tiap lekukan tubuh si perempuannya, dan mencumbuinya, lalu bercinta dengan segala nafsu seperti baru pertama kali terluapkan.

Melihat itu, John Snow memulai pembicaraan dengan bertanya, “Mengapa kau begitu sering membaca buku?”

Tentu saja jelas bagi Tyrion bahwa pertanyaan itu adalah hal yang harus ia maklumi. Andai ia hidup di masa sekarang, atau masa setelah buku-buku sudah menjadi rujukan utama dalam menjalani hidup, tentu pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang sangat dangkal yang hanya bisa dilontarkan dari orang-orang yang berpikiran dangkal pula.

“Lihat diriku dan katakan apa yang kau lihat?” jawab Tyrion dengan satu pertanyaan pula.

“Apakah ini sulap?” lagi-lagi John Snow bertanya kembali. Mungkin ia merasa bahwa pertanyaan harus direspon dengan jawaban, dan bukan dengan pertanyaan lagi.

Sambil tersenyum sedang, Tyrion terpaksa menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sendiri. “Yang kau lihat adalah seorang kurcaci. Jika saja aku dilahirkan sebagai rakyat biasa, mungkin aku telah dibuang ke hutan. Tetapi beruntung, aku dilahirkan sebagai seorang Lannister of Casterly Rock; ayahku adalah The Hand of King (tangan kanan raja) selama 20 tahun. Dan tentu, banyak hal yang diharapkan dariku sebagai seorang yang beketurunan bangsawan.”

Jelas (atau mungkin) John Snow memahami keadaan seorang Tyrion. Bahwa tak mungkin baginya berlatih pedang layaknya seorang ksatria dengan kekurangan fisik yang ia miliki. Dan mungkin juga John Snow menilai bahwa tak ada yang bisa diharapkan dari orang sekerdil Tryon ini.

Tetapi apapun itu, bagi Tyrion, tetap ada rasa tanggungjawab yang harus ia tanggung sendiri sebagai manusia. Tak beda dengan tanggungjawab yang diemban oleh para kesatria. Hanya saja, ketika yang lain memilih dan menggunakan pedang sebagai senjata dalam mengembang tanggungjawabnya, Tyrion hanya mengandalkan pikiran. Dan itulah senjata satu-satunya yang ia miliki.

“Hidup ini penuh dengan ironi,” lanjut Tryon sembari mengumbar aib keluarganya sendiri. “Kakakku (Jamie) telah membunuh raja. Kakakku (Cersei) pula yang menikahi raja yang baru. Lalu keponakanku yang menjengkelkan itu (Joffrey) akan menjadi raja penerusnya. Tentu aku juga punya kewajiban demi kehormatan keluargaku, bukan?”

Sambil menghela nafas, ia melanjutkan dengan penuh kesadaran dan optimisme yang kuat, “Tapi bagaimana aku bisa? Ya, saudaraku punya pedang dan aku punya pikiran. Dan pikiran perlu buku seperti pedang perlu diasah. Itu sebabnya aku sering membaca.” Sebuah sikap yang bijaksana, paling tidak terhadap diri sendiri.

Lantas apa yang bisa kita petik dari percakapan mereka? Ya, pengalaman yang bisa didapat dari buku-buku, selain pengalaman dari perjalanan fisik, jelas menjadi modal utama bahkan terbesar yang harus tiap manusia miliki dan kuasai. Diakui ataupun tidak, berdasarkan makna fungsionalnya, buku merupakan sekumpulan ide yang abadi dan menggerakkan. Buku mampu membangkitkan imajinasi-imajinasi dan metafor-metafor yang menggugah daya kreativitas si pembacanya. Dan hal ini tidak akan mungkin didapat dari sekadar adu fisik di medan perang.

Meski tak diutarakannya secara tersurat, saya yakin, Tyrion memahaminya sendiri dengan baik.

Sang Pencerah

Kisah menarik lain yang dapat kita petik dari sosok seorang Tyrion Lannister ini adalah bahwa pribadinya sangat menghendaki adanya perdamaian. Di samping membenci perang sebagai jalan manusia untuk hidup, ia juga membenci dogma keyakinan (agama) yang bernafas dari kekejaman dan kebengisan. Ia menghendaki jalan damai tanpa pertumpahan darah, tanpa kekejaman atau kebengisan, juga tanpa kebencian.

Di saat yang lain memaknai perang atau konflik sebagai solusi bagi perdamaian, Tyrion selalu tampil sembari mengkampanyekan pentingnya dialog politik atau diplomasi sebagai jalan utama dan terbaik. Hal ini ia tunjukkan terutama ketika dirinya menjabat sebagai Penasehat Daenerys Targaryean, sosok Ratu berjuluk The Mother of Dragons.

“Kita berdamai dengan musuh-musuh kita, bukan dengan teman-teman kita. Membunuh musuh adalah jalan milier, sedang berdamai dengannya adalah langkah diplomatik.” Begitulah sikap yang ia yakinkan pada teman-temannya sesaat sebelum akan menemui para Maester (pemilik budak) yang selalu ngotot mengembalikan perbudakan di Kota Meeren.

Meski demikian, ia sendiri tak pernah luput untuk memilih “pengadilan tarung”, sebuah mekanisme menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tetapi sikap semacam ini dapat kita maklumi, di mana keadaan atau kondisi jamannya adalah milik orang-orang yang tak seperti dirinya yang unik ini.

Lebih dalam lagi tentang sikapnya yang sangat mencerahkan, melalui refleksi dari apa yang ia alami, ia mencoba mempertanyakan mengapa para dewa itu kejam lagi bengis. “Dewa api menghendaki musuh-musuhnya untuk dibakar. Dewa air menghendaki musuh-musuhnya untuk ditenggelamkan. Adakah Dewa sela payudara dan anggur?”

Ya, Tyrion memang pencinta tubuh perempuan. Suka melacur. Gemar membenamkan wajahnya di sela-sela payudara mereka. Di samping itu, Tryon juga adalah pemabuk berat. Sangat jarang kita jumpai bagaimana ia beraktivitas tanpa sedikitpun meneguk anggur walau hanya setetes. Baginya, payudara dan anggur inilah yang memberi kenikmatan dan kedamaian hidup tiada dua. Itulah sebab mengapa ia menghendaki Dewa yang seperti itu.

Untuk ukuran sekarang, orang jelas akan menilai bahwa Tyrion tak lebih sebagai “sampah masyarakat”. Perilakunya menjijikkan. Orangnya amoral. Karenanya ia dijuluki sebagai “Si Anak Nakal”.

Tetapi sungguh, jangan menilai orang hanya dari luarannya saja. Sikap dan perilakunya memang sangat vulgar. Tetapi makna di balik sikap dan perilakunya itu jelas menyimpan hal yang sangat terdalam, yang sayangnya kita tak mampu menangkapnya sebagai sesuatu yang mencerahkan, sesuatu yang mampu memberi inspirasi bagi hidup.

Apa yang dikehendaki Tyrion dengan memimpikan Dewa sela payudara dan anggur, adalah apa yang sebenarnya manusia kehendaki. Bahwa kekejaman, kebengisan dan kebencian, haruslah kita padamkan, bahkan jika Dewa (Tuhan) sendiri sekalipun menghendakinya.

Ya, manusialah yang hidup bukan Tuhan. Manusia yang menjalani, manusia yang merasakan, manusia pula yang harus menghendakinya. Tetapi sayang, saya sukar menjelaskan wilayah yang tergolong sakral ini. Saya hanya bisa berharap, semoga ada pembaca yang berminat memberi penjelasan lebih lanjut tentang jalan spiritual yang dinginkan seorang pencerah bernama Tyrion Lannister ini.

Selamat membaca dan selamat melanjutkan apa-apa yang belum jelas saya utarakan.

Seputarsulawesi.com, 04 Juli 2016

Perjuangan kemanusiaan memang perealisasiannya sangat dimungkinkan di dalam Negara yang menganut sistem pemerintahan demokratis. Demokrasi, bisa dikatakan, memberi segala ruang kebebasan, baik individu ataupun kelompok, untuk menyalurkan aspirasi menurut kepentingan dan kebutuhannya. Tentu ini bisa selama tidak bertentangan dengan dasar berdirinya Negara itu sendiri, yakni konstitusi dan ideologinya.

Amerika serikat merupakan salah satu Negara yang paling banyak mengusung ide-ide demokrasi. Dari beragam aspek, sebut saja misalnya bidang pemerintahan, konsep pemerintahan sekuler yang dianutnya tentu berbeda jauh dengan konsep pemerintahan yang ada di dunia Arab. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat sebagai makna lahiriah dari sistem demokrasi tersebut, jelas tak sama dengan pemerintahan yang berbasis di bawah naungan kekuasaan “Tuhan”: teokrasi.

Pada ranah ini, kita butuh untuk berterimakasih kepada Amerika yang telah memotivasi hampir sebagian besar Negara-negara di dunia ketiga hari ini. Padanya, ia tetap konsisten dalam mengusung ide demokrasi sebagai konsep paling ideal ketimbang konsep lainnya. Kebebasan individu misalnya, adalah kunci untuk mencapai peradaban suatu masyarakat atau bangsa.

Tidak ada tatanan masyarakat tanpa kebebasan individunya. Dan ini serta merta diusung oleh Amerika di setiap pengambilan kebijakannya. Meski begitu, istilah “atas nama kemanusiaan” di dalam demokrasi tersebut, kerap dianulir sebagai pelanggengan kekuasaan tertentu. Ya, kekuasaan yang beratasnamakan rakyat memang cenderung mengarah kepada pemerintahan otoriter.

William Blum, salah seorang pakar anti-mainstream ternama asal Amerika Serikat, terutama di bidang kebijakan luar negerinya, melihat situasi semacam ini kerap dijalankan oleh pemerintahan di negeri kelahirannya. Ia beranggapan bahwa sistem tersebut tidak lain sebagai mekanisme politik guna menunjang kepentingan Amerika semata.

Ia kemudian merangkum fakta-fakta yang diyakininya tersebut ke dalam salah satu karyanya berjudul America’s Deadliest Export Democracy: The Truth About Us Foreign Policy and Everything Else terbitan Zed Books Ltd, London 2013. Karya ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Demokrasi: Ekspor Amerika Paling Mematikan.

Karya yang mengkritik habis dengan tajam serta koreksi berharga atas wacana politik mainstream ini, terbilang memberikan pengaruh besar atas kebijakan luar negeri Amerika sendiri. Pasalnya, Blum menyampaikan gagasannya tanpa rasa takut. Bahasa-bahasa “kotor” kerap bisa kita temui saat membaca karyanya tersebut.

Sejak tahun 1945, Blum melihat bahwa Amerika telah mencoba untuk menggulingkan lebih dari lima puluh pemerintahan, yang kebanyakan dipilih secara demokratis, dan ikut campur tangan dalam pemilihan-pemilihan umum di setidaknya tiga puluh Negara, termasuk juga di Indonesia. Dalam upayanya, setiap agresi militer yang ia lancarkan, kerap berlindung di balik istilah “atas nama kemanusiaan”. Demokrasi, istilah inilah yang terus ia pakai. Lantas, bagaimana dengan demokrasi di Indonesia sendiri?

 

Demokrasi di Indonesia

Pasca proklamasi kemerdekaan, demokrasi kini bergulir drastis di bumi pertiwi. Demokrasi yang menganut paham konsensus dan musyawarah di Indonesia ini, justru hanya melahirkan wajah demokrasi yang beragam, tergantung pada siapa dan bagaimana para pemimpin mendandani wajah demokrasi.

Masa Orde Lama, bangsa ini diperkenalkan dengan model Demokrasi Terpimpin. Di bawah kuasa Seokarno, demokrasi sebagai keputusan yang sentralistik. Ya, banyak menuai kritik memang. Tetapi sungguh wajah demokrasi seperti ini sangat dimungkinkan mengingat pentingnya persatuan di tengah keragaman bangsa saat itu.

Runtuh Orde Lama, digantikan dengan Orde Baru. Wajah demokrasi pun berubah di bawah kuasa seorang Seoharto. Di tangan seorang otoriter ini, demokrasi sebelumnya diubah menjadi Demokrasi Pancasila. Konsepsi asal bapak senang (ABS), menjadi ciri khas pembangunisme di era ini.

Para intelektual hanya tumbuh sebagai delegitimator kebenaran si penguasa. Meski banyak di antara mereka yang kontra terhadapnya, sebut misalnya Cak Nur dan Gus Dur, mereka tetap saja tak melawannya dengan vis a vis. Demokrasi di tangan Soeharto, kerap dijadikan alat eksploitasi “atas nama kemanusiaan”. Lagi-lagi istilah semacam ini menjadi trend untuk sebuah penindasan dan pemerasan.

Reformasi bergulir, kini demokrasi diharapkan mampu menjelma sebagaimana idealnya. Kran kebebasan yang terbuka lebar itu, hanya mampu menjadikan kebebasan yang kebablasan. Semua orang berbondong-bondong mendirikan partai, semua orang ingin menjadi pahlawan. Alhasil, bangsa yang seharusnya tinggal landas, kini kandas. Demokrasi, lagi-lagi karenanya.

Hari ini, apa yang bisa kita harapkan dengan melihat realitas masa silam tersebut? Jelas, bukan demokrasi yang harus diubah, tetapi cara pandang mengenai konsepsi demokrasi itu sendiri yang harus tetap pro terhadap kemanusiaan. Penindasan atas nama kemanusiaan jelas melanggar ide luhur dari demokrasi itu sendiri. Demokrasi ya demokrasi, dan prakteknya bukan hanya terbatas pada slogan atas nama kemanusiaan. Perlu realisasi konkrit atasnya.

Sebagaimana pandangan Blum dalam karyanya tersebut yang mengganggap bahwa demokrasi adalah ekspor Amerika paling mematikan, jelas pemahaman yang keliru. Bahwa demokrasi hanya butuh ditangani oleh pemimpin-pemimpin yang demokratis, bukan pemimpin yang melulu mengatasnamakan demokrasi dan kemanusiaan, padahal hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya belaka. Hematnya, tak ada yang salah pada demokrasi. Semua tergantung pada pemaknaan dan perealisasiannya dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini.

Judul              : Demokrasi: Ekspor Amerika Paling Mematikan

Penulis            : William Blum

Penerbit          : Bentang Pustaka

Cetakan          : I, Mei 2013

Tebal              : xxviii + 480 hlm; 20,5 cm

ISBN               : 978-602-7888-09-8

Kesaksian, Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY - SAMPULJudul              : KESAKSIAN: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY

Penulis           : Maman Suratman

Pengantar      : Wahyu Minarno

Penerbit         : Human-Liberty & Philosphia Press

Tahun             : Yogyakarta, Cet. I, 2015

Tebal              : 143 hlm; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-7275-2-5

 

“Tak ada yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.”

– Soe Hok Gie –

Ruang publik adalah ruang di mana gagasan bisa bersenyawa dengan lingkungan sekitarnya, tempat di mana ia ditebar dan menyebar. Ruang publik adalah kondisi yang memungkinkan tiap-tiap individu mampu menyemai gagasan-gagasannya, serta menjamin segala bentuk kebebasan sebagai potensi hidupnya. Ya, inilah ruang yang tak secuilpun dikendaki untuk tidak mewujud, bahkan ketika ada pihak yang berusaha menafikan atau meniadakannya, serta merta akan dilawan dengan segala kesungguhan perlawanannya.

Memang, tak seorang pun yang menghendaki kebebasannya dikekang. Melalui ruang publik, kemungkinan akan teranulirnya kebebasan sangatlah besar. Sebab begitulah manusia dengan fitrah kemanusiaan yang ada pada dirinya.

Termasuk di dunia pendidikan, ruang publik adalah hal yang sangat dibutuhkan melebihi apapun. Ini tidak hanya semata sebagai wadah untuk menampakkan eksistensi manusia sebagai manusia atau mahasiswa sebagai mahasiswa, melainkan lebih sebagai upaya memberi asupan hidup bagi esensi atau kodratnya, sebagai manusia, sebagai mahasiswa.

Buku kecil yang ditulis oleh Maman Suratman, yakni Kesaksian: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY, sebagai pemantik, juga bisa dikatakan sebagai upaya menggagas ruang publik dalam dunia pendidikan. Berbagai wacana yang terlontar di dalamnya, terang adalah upaya menghadirkan ruang publik, yakni wajah pendidikan yang demokratis, sistem kebijakan yang inklusif, ada untuk semua golongan. Saya kira, inilah tuntutan mulia yang coba Maman hadirkan melalui secerca kisah perlawanan rekan-rekan mahasiswa di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) terhadap sistem kebijakan kampusnya yang dirasa tidak bersahabat lagi.

Belajar dan Berjuang

Sebagai mahasiswa, tentu mereka punya harapan dan cita-cita besar untuk kelak bisa berpartisipasi dalam pembangunan peradaban bangsa. Mereka belajar sekaligus berjuang, semata untuk mengkader dirinya sebagai calon penerus cita-cita Nusantara ke depan: berkeadilan sosial bagi semua.

Dalam mengkader diri dan sesamanya, tak jarang memang beberapa hambatan akan dilalui. Pengorbanan seolah menjadi konsekuensi logis dalam sebuah perjuangan. Meski demikian, ini bukan berarti harus menciutkan nyali, melainkan harus lebih memantapkan posisi mahasiswa sebagai sang agen perubahan.

“Mei Berdarah” adalah frasa yang mungkin paling tepat menggambarkan peristiwa yang pernah dialami rekan-rekan mahasiswa UTY. Atas nama pendidikan, mereka berusaha merebut hak asasi yang dirasa telah dirampas oleh kebijakan. Dan atas nama kebebasan, mereka menggagas ruang publik dari cemarnya dunia pendidikan yang telah disalah-arahkan.

Ya, tentu ada saja hambatan-hambatan dalam pengupayaannya. Hambatan-hambatan seperti pengorbanan tentu akan ada saja dalam setiap perjuangannya. Sebagaimana dialami mahasiswa UTY, hambatan-hambatan mereka lalui bersama. Pengorbanan pun mereka berikan tanpa rasa takut dan kehilangan. Begitulah perjuangan mereka yang berhilir tidak hanya pada kekerasan fisik, melainkan juga intimidasi moral serta sanksi keras berupa D.O. dan skorsing.

Meski peristiwa tersebut menjadi kenangan pahit di antara mereka, tetapi tekad dan semangatnya tak pernah redup. Bahkan mundur selangkah pun tak pernah jadi prinsip. Bagi mereka, menjadi pengecut bukanlah niatan. “Jangan jadi pecundang, jadilah pejuang yang menjelmakan dirinya sebagai martir perubahan,” demikian tulis Maman dalam buku yang ia sebut sebagai goresan kecil itu.

Kesaksian: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY adalah catatan/goresan kecil yang lahir dari ruang pertarungan gagasan. Baik dari pertarungan gagasan penulisnya sendiri atas realitas yang dihadapinya, maupun pertarungan gagasan antara mahasiswa UTY dengan sistem kebijakan kampusnya yang Maman jadikan sebagai objek dari tulisannya. Hematnya, hampir tak ada ide yang benar-benar lahir dari ruang kosong nan hampa. Begitulah saya menilai buku kecil ini dengan segala dinamika persoalan di dalamnya.

Sesuai dengan judul bukunya, Maman berusaha menceritakan kisah-kisah heroik sekelompok mahasiswa UTY. Dengan nada-nada yang sedikit “nakal”, Maman berkisah bagaimana para mahasiswa UTY kala itu berjuang tiada lelah melawan arus deras kebijakan kampusnya. Bagaimana mereka kala itu merespon realitas kampus yang dirasa sangat sarat dengan pelanggaran-pelanggaran akademik di dalamnya yang itu seolah mendarah-daging di tubuh sistem pendidikan UTY sendiri.

Beberapa pelanggaran akademik yang dimaksud, sebagai misal, kenaikan biaya perkuliahan yang sama sekali tak bersinergi dengan peningkatan mutu pendidikan; kurikulum yang amburadul; tempat belajar yang tak kondusif; hingga para tenaga pengajar yang minim pengetahuan. Belum lagi, melambungnya ongkos-ongkos kesehatahan yang justru semakin mencekik mahasiswa di tiap semesternya. Dan yang paling fatal adalah pelarangan organisasi ekstra di lingkungan kampusnya (hlm. 8). Semua Maman utarakan sebagai titik berangkat perjuangan mahasiswa UTY, sekaligus menjadi alasan logis mengapa mereka harus melawan.

Ya, siapapun tentu akan marah, berontak, dan melawan realitas yang tak berjalan sebagaimana harusnya—hanya yang gila yang mungkin tidak akan demikian. Ketika kita menghendaki apa yang seharusnya terjadi, sedang realitas melulu menjawabnya dengan wajah dan rupa yang berbeda, apalagi bertolak-belakang, maka di sanalah perlawanan kita atasnya itu dan harus muncul. Tanpa perlu pembuktian apa-apa lagi, sejarah telah memperlihatkan itu semua, termasuk apa yang telah Maman tulis sendiri dalam goresan kecilnya tersebut.

Tetapi satu yang mungkin perlu dicatat di sini adalah bahwa sebagai penulis, Maman sama sekali tak ada niatan untuk menebar kebohongan, menjatuhkan nama baik seseorang, kelompok atau institusi tertentu, apalagi pamer diri. Dalam prakata yang ditulisnya, Maman hanya hendak memperlihatkan kepada dunia betapa tirani dan penindasan itu ada di mana-mana. Tak hanya dalam kehidupan berskala besar seperti negara, melainkan juga di dunia pendidikan (mahasiswa) sekalipun yang semestinya tidak boleh ada (hlm. viii).

Mencari Alternatif

Sebenarnya, apa yang dikehendaki mahasiswa UTY kala itu hanyalah bagaimana menghadirkan wajah pendidikan yang demokratis, berkualitas, lagi melatih bagaimana cara mengabdi pada masyarakat, tidak sekadar kepada dunia kerja. Tentu saja, ini bukan semata kewajiban lembaga pendidikan seperti UTY, melainkan sudah menjadi hak masing-masing warga negara tanpa kecuali yang memang telah diamanatkan dalam konstitusi negara dan Tri Dharma Perguruan Tinggi itu sendiri. Karenanya, dengan atau tanpa perjuangan atau tuntutan sekalipun, sudah seharusnya-lah kondisi yang demikian itu ada.

Lagi-lagi sayang, fakta selalu menjawabnya dengan nada yang berbeda. Karenanya, berangkat dari beberapa persoalan di lingkungan kampus, Maman menilik bagaimana upaya para mahasiswa UTY membentuk suatu wadah tertinggi kemahasiswaan, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Tujuan dari pembentukan wadah ini tak lain sebagai penampung suara mahasiswa, sebagai media penyalur aspirasi mereka ke pihak pengelolah kampus. Karena memang, seperti yang dicatat oleh Maman sendiri, tak ada satupun wadah yang bisa menaungi dan membawa aspirasi mahasiswa ke tingkat elit (para pengambil kebijakan kampus). Jika pun ada, paling sebatas nama tanpa peran. Alhasil, kampus dengan kebijakannya semakin leluasa memainkan peran sebagai penentu absolut (hlm. 7).

Bukankah kampus itu ibarat negara? Dalam negara, rakyatlah yang berkuasa. Mereka berhak menentukan setiap pengambilan keputusan apa yang harus diambil di dalam pengelolaannya. Mereka berhak menolak atau tidak, berhak menerima atau tidak, semua tergantung dari apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhannya.

Nah, begitupun dalam dunia kampus. Sekalipun swasta, yang memang punya otoritas tersendiri dalam mengelolah dan mengarahkan pendidikan dan sistemnya, tetap saja tidak dibenarkan untuk menyalahi fungsi pendidikan. Apalagi, sebagaimana kita ketahui, mahasiswa-lah sebagai pihak yang paling berkepentingan di dalamnya. “Ingat! Manusia bukan robot! Mahasiswa bukan sapi perahan!” tegas Maman.

Apa yang saya rangkum ini, bukanlah hendak menghadirkan rasa romantisme belaka atas perjuangan mahasiswa UTY yang Maman kisahkan dalam bukunya. Ya, kita semua (terutama saya sendiri) rindu pada kejujuran. Kita rindu pada keterbukaan, rasa keadilan, dan kita rindu pada keberanian moral sebagaimana Maman suguhkan kepada kita. Tentunya, kerinduan-kerinduan semacam ini yang harus memacu kita untuk melihat jauh ke depan. Bahwa hidup dan masa depan hanya akan kita raih dengan sebuah perjuangan. Orang-orang yang hanya hidup dari harapan-harapan hanya akan melahirkan frustasi berkepanjangan. Harapan itu penting, tapi perjuangan untuk meraihnya adalah tujuan hidup yang sesungguhnya!

 

*Resensi oleh Uci Bai, Mahasiswi Jogja Asal Bangka Belitung

Next Page »