Film


Qureta, 15 Juli 2016

tyrion_lannister

Sungguh ada banyak orang di dunia ini yang mampu memberi kita inspirasi atau pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup. Saking banyaknya, kita tentu tak perlu lagi bersusah-susah menuntut ilmu sampai ke negeri Cina sebagaimana anjuran Nabi. Cukup sekali “klik”, maka orang beserta inspirasi berupa pelajarannya itu pun akan muncul.

Kita hanya dituntut untuk memilih. Yang terbaik di antara yang terbaik, itulah yang harus kita jadikan pedoman. Sayangnya, kita cenderung membuat penyempitan ruang atau sumber belajar kita sendiri. Hanya karena tak suka dengan siapa yang berbicara, mungkin ia jelek, miskin, atau apalah yang sejenisnya itu, kita lalu abai terhadap apa yang disampaikannya.

Ya, kita masih cenderung melihat siapa yang berbicara, bukan pada apa yang ia bicarakan. Kita masih cenderung gandrung pada satu sosok pribadi seseorang hanya karena faktor fisiknya, bukan pada ide besar yang digagasnya. Lalu apa yang bisa kita dapat dari sikap semacam itu? Sebuah upaya menipu diri sendiri.

Tyrion Lannister adalah salah satu sosok yang bisa kita jadikan ucapan dan tindakannya (ide besarnya) sebagai sumber inspirasi untuk hidup. Meski ditampilkan secara fiktif dalam serial film berjudul Game of Thrones—sebuah drama fantasi David Benioff dan D.B. Weiss yang diadaptasi dari novel A Song of Ice and Fire karya George R.R. Martin yang tayang sejak April 2011 di HBO, Amerika Serikat, tak berarti bahwa dirinya, terutama ide besar yang ia bawa, harus kita tempatkan sebagai inspirasi yang fiktif pula. Berlaku demikian, berarti lagi-lagi kita hanya akan menyempitkan ruang atau sumber belajar kita sendiri.

Mengenal Lebih Dekat

Game of Thrones merupakan film fantasi yang berkisah tentang 7 Great House (atau The Seven Kingdoms) yang selalu berbalut kecamuk hanya karena memperebutkan kekuasaan, yakni “The Iron Throne”. Kekuasaan yang berkedudukan di Westeros King’s Landing ini, di tiap episodenya, hampir tak pernah mengabsenkan intrik dan kelicikan, persekongkolan, penghianatan, hingga peperangan dan percintaan “terlarang”. Semua upaya “kotor” itu digaungkan hanya demi menggapai impian dapat duduk sebagai penguasa di  “Tahta Besi”.

Dalam situasi yang saling rebut-merebut tahta seperti itu, di sanalah seorang Tyrion Lannister lahir dan dibesarkan. Meski hidup tanpa pernah merasakan belaian kasih sayang seorang ibu—ibunya meninggal pasca kelahirannya, ia tumbuh menjadi Lannister sejati, di mana peran utama klan ini adalah menjabat sebagai tumpuan pertahanan utama King’s Landing. Mempertahankan King’s Landing dari serangan Stannis Baratheon menjadi bukti tersendiri akan hal itu.

Anak bungsu dari Tywin Lannister ini punya saudara laki-laki bernama Jamie Lannister. Ia adalah seorang Kingsguard yang membunuh The Mad King lantaran dianggap telah keluar jalur sebagai sang raja. Karenanya ia dijuluki sebagai “Kinglayer”.

Saudara perempuannya bernama Cersei Lannister, Ratu dari King Robert Baratheon sepeninggal The Mad King. Sosok ibu ini sangat sayang pada anak-anaknya, tetapi tidak pada yang lain. Ia penuh benci, dengki juga dendam.

Tyrion Lannister, meski tumbuh sebagai seorang bangsawan dan klan penguasa, ia justru punya sosok yang begitu unik jika dibanding dengan saudaranya yang lain. Disebut unik sebab sikap dan tindakannya sama sekali berbeda dengan sikap dan tindakan seorang bangsawan pada umumnya.

Dan terus terang saya melahap habis film fantasi yang (masih) terdiri dari 6 sesi dengan 10 episode di masing-masing serinya ini hanya karena sosok bijak seorang Tryon. Ia seorang yang pragmatis, pemabuk berat, dan gemar bersembunyi di antara sela payudara para pelacurnya. Dan ia punya alasan tersendiri atas sikap dan perilakunya yang demikian.

Lebih dari itu, sungguh ia seorang yang cerdas dan tak percaya takhayul alias logis. Ia hanya percaya pada akal dan kemampuan yang ia percaya tumbuh pada dirinya. Kecerdasan, intelektualitas, serta filosofi, berada satu paket dalam dirinya yang selalu optimis. Bisa dikatakan, pergerakannyalah yang paling dramatis dan amazing di Game of Thrones.

Sekali lagi, meski perawakannya yang tak seberapa itu jika dibanding orang pada umumnya, tetapi daya berpikirnya sungguh jauh melampaui perawakan tubuh kecilnya sendiri. Mungkin inilah yang orang sering sebut bahwa orang besar dinilai bukan dari fisiknya yang besar, melainkan dari pemikirannya yang besar. Begitulah “Si Anak Nakal” ini tampil di hadapan saya.

Bercinta dengan Buku

Salah satu adegan yang paling menyentuh saya ketika melihat sikap dan pandangan seorang Tyrion ini adalah saat ia berbincang dengan John Snow, salah seorang anggota keluarga dari klan Stark, klan penguasa di Winterfell. Kala itu mereka hendak berkunjung ke Night’s Watch, tempat orang-orang “terbuang” yang mengabdikan dirinya sebagai penjaga The Wall (tembok besar di wilayah perbatasan Utara-Selatan).

Di sela perjalanan mereka, di saat yang lain sibuk untuk melepas kantuk, dahaga dan rasa lelah akibat perjalanan panjang, Tyrion selalu terlihat sibuk membuka lembaran demi lembaran dari bukunya. Persis seperti seorang laki-laki yang sedang membelai halus tiap lekukan tubuh si perempuannya, dan mencumbuinya, lalu bercinta dengan segala nafsu seperti baru pertama kali terluapkan.

Melihat itu, John Snow memulai pembicaraan dengan bertanya, “Mengapa kau begitu sering membaca buku?”

Tentu saja jelas bagi Tyrion bahwa pertanyaan itu adalah hal yang harus ia maklumi. Andai ia hidup di masa sekarang, atau masa setelah buku-buku sudah menjadi rujukan utama dalam menjalani hidup, tentu pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang sangat dangkal yang hanya bisa dilontarkan dari orang-orang yang berpikiran dangkal pula.

“Lihat diriku dan katakan apa yang kau lihat?” jawab Tyrion dengan satu pertanyaan pula.

“Apakah ini sulap?” lagi-lagi John Snow bertanya kembali. Mungkin ia merasa bahwa pertanyaan harus direspon dengan jawaban, dan bukan dengan pertanyaan lagi.

Sambil tersenyum sedang, Tyrion terpaksa menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sendiri. “Yang kau lihat adalah seorang kurcaci. Jika saja aku dilahirkan sebagai rakyat biasa, mungkin aku telah dibuang ke hutan. Tetapi beruntung, aku dilahirkan sebagai seorang Lannister of Casterly Rock; ayahku adalah The Hand of King (tangan kanan raja) selama 20 tahun. Dan tentu, banyak hal yang diharapkan dariku sebagai seorang yang beketurunan bangsawan.”

Jelas (atau mungkin) John Snow memahami keadaan seorang Tyrion. Bahwa tak mungkin baginya berlatih pedang layaknya seorang ksatria dengan kekurangan fisik yang ia miliki. Dan mungkin juga John Snow menilai bahwa tak ada yang bisa diharapkan dari orang sekerdil Tryon ini.

Tetapi apapun itu, bagi Tyrion, tetap ada rasa tanggungjawab yang harus ia tanggung sendiri sebagai manusia. Tak beda dengan tanggungjawab yang diemban oleh para kesatria. Hanya saja, ketika yang lain memilih dan menggunakan pedang sebagai senjata dalam mengembang tanggungjawabnya, Tyrion hanya mengandalkan pikiran. Dan itulah senjata satu-satunya yang ia miliki.

“Hidup ini penuh dengan ironi,” lanjut Tryon sembari mengumbar aib keluarganya sendiri. “Kakakku (Jamie) telah membunuh raja. Kakakku (Cersei) pula yang menikahi raja yang baru. Lalu keponakanku yang menjengkelkan itu (Joffrey) akan menjadi raja penerusnya. Tentu aku juga punya kewajiban demi kehormatan keluargaku, bukan?”

Sambil menghela nafas, ia melanjutkan dengan penuh kesadaran dan optimisme yang kuat, “Tapi bagaimana aku bisa? Ya, saudaraku punya pedang dan aku punya pikiran. Dan pikiran perlu buku seperti pedang perlu diasah. Itu sebabnya aku sering membaca.” Sebuah sikap yang bijaksana, paling tidak terhadap diri sendiri.

Lantas apa yang bisa kita petik dari percakapan mereka? Ya, pengalaman yang bisa didapat dari buku-buku, selain pengalaman dari perjalanan fisik, jelas menjadi modal utama bahkan terbesar yang harus tiap manusia miliki dan kuasai. Diakui ataupun tidak, berdasarkan makna fungsionalnya, buku merupakan sekumpulan ide yang abadi dan menggerakkan. Buku mampu membangkitkan imajinasi-imajinasi dan metafor-metafor yang menggugah daya kreativitas si pembacanya. Dan hal ini tidak akan mungkin didapat dari sekadar adu fisik di medan perang.

Meski tak diutarakannya secara tersurat, saya yakin, Tyrion memahaminya sendiri dengan baik.

Sang Pencerah

Kisah menarik lain yang dapat kita petik dari sosok seorang Tyrion Lannister ini adalah bahwa pribadinya sangat menghendaki adanya perdamaian. Di samping membenci perang sebagai jalan manusia untuk hidup, ia juga membenci dogma keyakinan (agama) yang bernafas dari kekejaman dan kebengisan. Ia menghendaki jalan damai tanpa pertumpahan darah, tanpa kekejaman atau kebengisan, juga tanpa kebencian.

Di saat yang lain memaknai perang atau konflik sebagai solusi bagi perdamaian, Tyrion selalu tampil sembari mengkampanyekan pentingnya dialog politik atau diplomasi sebagai jalan utama dan terbaik. Hal ini ia tunjukkan terutama ketika dirinya menjabat sebagai Penasehat Daenerys Targaryean, sosok Ratu berjuluk The Mother of Dragons.

“Kita berdamai dengan musuh-musuh kita, bukan dengan teman-teman kita. Membunuh musuh adalah jalan milier, sedang berdamai dengannya adalah langkah diplomatik.” Begitulah sikap yang ia yakinkan pada teman-temannya sesaat sebelum akan menemui para Maester (pemilik budak) yang selalu ngotot mengembalikan perbudakan di Kota Meeren.

Meski demikian, ia sendiri tak pernah luput untuk memilih “pengadilan tarung”, sebuah mekanisme menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tetapi sikap semacam ini dapat kita maklumi, di mana keadaan atau kondisi jamannya adalah milik orang-orang yang tak seperti dirinya yang unik ini.

Lebih dalam lagi tentang sikapnya yang sangat mencerahkan, melalui refleksi dari apa yang ia alami, ia mencoba mempertanyakan mengapa para dewa itu kejam lagi bengis. “Dewa api menghendaki musuh-musuhnya untuk dibakar. Dewa air menghendaki musuh-musuhnya untuk ditenggelamkan. Adakah Dewa sela payudara dan anggur?”

Ya, Tyrion memang pencinta tubuh perempuan. Suka melacur. Gemar membenamkan wajahnya di sela-sela payudara mereka. Di samping itu, Tryon juga adalah pemabuk berat. Sangat jarang kita jumpai bagaimana ia beraktivitas tanpa sedikitpun meneguk anggur walau hanya setetes. Baginya, payudara dan anggur inilah yang memberi kenikmatan dan kedamaian hidup tiada dua. Itulah sebab mengapa ia menghendaki Dewa yang seperti itu.

Untuk ukuran sekarang, orang jelas akan menilai bahwa Tyrion tak lebih sebagai “sampah masyarakat”. Perilakunya menjijikkan. Orangnya amoral. Karenanya ia dijuluki sebagai “Si Anak Nakal”.

Tetapi sungguh, jangan menilai orang hanya dari luarannya saja. Sikap dan perilakunya memang sangat vulgar. Tetapi makna di balik sikap dan perilakunya itu jelas menyimpan hal yang sangat terdalam, yang sayangnya kita tak mampu menangkapnya sebagai sesuatu yang mencerahkan, sesuatu yang mampu memberi inspirasi bagi hidup.

Apa yang dikehendaki Tyrion dengan memimpikan Dewa sela payudara dan anggur, adalah apa yang sebenarnya manusia kehendaki. Bahwa kekejaman, kebengisan dan kebencian, haruslah kita padamkan, bahkan jika Dewa (Tuhan) sendiri sekalipun menghendakinya.

Ya, manusialah yang hidup bukan Tuhan. Manusia yang menjalani, manusia yang merasakan, manusia pula yang harus menghendakinya. Tetapi sayang, saya sukar menjelaskan wilayah yang tergolong sakral ini. Saya hanya bisa berharap, semoga ada pembaca yang berminat memberi penjelasan lebih lanjut tentang jalan spiritual yang dinginkan seorang pencerah bernama Tyrion Lannister ini.

Selamat membaca dan selamat melanjutkan apa-apa yang belum jelas saya utarakan.

Iklan

LPM Arena, 20 Januari 2015

large_hgct2KLvJQr5KchdVMPyJFxBNNm

  • Sutradara : Robert Redford
  • Produser : Greq Shapiro, Bill Holderman, Robert Redfor, Brian Falk, Robert Stone
  • Penulis Naskah: James D. Solomon
  • Pemain : James McAvoy, Robin Wright Penn, Justin Long, Evan Rachel Wood, Tom Wilkinson, Kevin Kline, Alexis Bledel, Danny Huston, Colm Meaney, Toby Kebbel, Jonathan Groff, Stephen Root
  • Genre : Drama

Apa hendak dikata ketika seseorang yang kita cintai dituduh sebagai dalang sebuah pembunuhan berencana – hukumannya, jika bukan mati, penjara seumur hidup? Kita bisa saja meluapkan emosi kepada siapa dan apapun yang ada di sekeliling kita. Ini sebentuk reaksi terhadapnya. Tetapi, emosi yang kita luapkan itu, sungguh tidak akan pernah cukup, dan jauh lebih tidak akan berarti apa-apa, bagi kita ataupun untuk dia yang kita cintai. Berserah? Bisa jadi itu yang paling mungkin bisa kita perbuat.

Semua orang tentu tidak akan ada yang menghendaki pengalaman yang demikian. Semua bahkan akan bertarung nyawa demi menjaga seseorang yang dicintainya. Tetapi bagaimana ketika kondisi itu berlaku pada yang sebaliknya? Jelas ini akan berbeda. Tidak cukup hanya dengan senyuman, histeris kegirangan pun seketika akan meluap. Lagi-lagi, semua itupun tidak akan cukup.

The Conspirator, sebuah film yang mengisahkan tragedi pembunuhan Abraham Lincoln di tahun 1865, menunjukkan bagaimana besarnya kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Meski nyawa sebagai taruhannya, Mary Surratt (Robin Wirght) nekat diakhiri hidupnya demi menyelamatkan sang anak, John Surratt (Johnny Simmons), yang diputuskan bersalah oleh negara karena terlibat dalam konspirasi pembunuhan sang presiden. Mary rela menanggung kesalahan sang anak atas dasar kasih sayang yang berlebih. Sebuah fakta yang kerap kita jumpai di kehidupan sehari-hari kita.

Terlepas dari rasa sayang seorang ibu terhadap anaknya, film ini sejatinya hendak menunjukkan bagaimana filosofi libertarian wajib untuk kita bela. Dalam keadaan dan kondisi apapun, hak-hak konstitusional seorang sipil selamanya tidak boleh kita abaikan, apalagi oleh penentu kebijakan dalam sebuah negara. Setiap warga negara, siapa dan dari manapun ia berasal, harus diperlakukan setara, terutama di mata hukum. Bahwa hukum mengikat setiap individu masyarakat tanpa tebang pilih.

Adalah Frederick Aiken (James McaVoy), seorang pengacara muda dan ternama Amerika, berhasil meneguhkan filosofi tersebut. Ia berhasil meyakinkan dirinya secara pribadi bahwa sentimen individu atau kelompok tidak boleh melandasi pengambilan keputusan bagi keseluruhan warga negara. Dan bahkan, perasaan kemanusiaan pun harus diredam jika yang ingin diungkap adalah sebuah kebenaran. Baginya sendiri, kebenaran harus tetap diungkap, apapun konsekuensinya.

Sebagai seorang pengabdi hukum, Aiken yang saat itu ditugaskan untuk membela Mary Surratt sebagai tersangka pembunuhan, harus memilih antara menjadi patriot negara atau pejuang kemanusiaan. Jika memilih yang pertama, berarti ia harus menanggalkan idealismenya sebagai seorang yang dituntut untuk senantiasa bersikap objektif. Jika memilih yang kedua, berarti harus menerima pengasingan publik—patut diingat bahwa sentimen Utara-Selatan begitu dominan pasca tragedi pembunuhan sang presiden.

Melalui berbagai pertimbangan dan fakta di lapangan, Aiken lebih memilih untuk berbicara atas nama kebenaran. Ia memilih menjadi “penghianat bangsa” demi tegaknya kebenaran hakiki. Ia memilih untuk mengabaikan perasaan seorang ibu yang sangat besar rasa sayangnya terhadap anaknya.

Sebagai seorang liberal, keputusannya tentu sudah sangat tepat. Seorang liberal senantiasa menyadari bahwa pilihan selalu menyisahkan sesuatu yang tak tergantikan. Mustahil bagi seseorang bisa memiliki dua hal baik dalam sekaligus tanpa memilih salah satu di antaranya.

Sekali lagi, apa yang hendak disampaikan film ini kepada publik dengan menampilkan sosok libertarian seperti Aiken adalah bahwa kapan dan di manapun, seseorang atau kelompok, selamanya tidak boleh meniadakan hak-hak atau kebebasan individu orang lain. Semuanya harus memperlakukan dan diperlakukan setara di segala bidang, hukum, politik, sosial, dan sebagainya. Hanya kebenaran hakikilah yang menjadi hakim di atas segalanya.

13533957087975_300x430

Film berkisah tentang dua anak manusia yang saling mencintai berlatar belakang perbedaan keyakinan. Sutradara oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra; Produksi Mulitivision Plus Pictures 2012.

“Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak dapat dipisahkan manusia,” begitulah kutipan dalam cover film berjudul “Cinta tapi Beda” karya terbaru sutradara pluralis, Hanung Bramantyo.

Berangkat dari kisah nyata yang ditulis oleh Dwitasari dalam blognya dwitasarii.blogspot.com, bersama Hestu Saputra, rekan sutradaranya, Hanung kemudian memvisualisasikan kisah tersebut dengan menggandeng sejumlah aktor dan aktris ternama Indonesia, seperti Agni Pratistha, Reza Nangin, Choky Sitohang, Jajang C. Noor, Ratu Felisha, Agus Kuncoro, Hudson Pranajaya, dan banyak lainnya.

Sebagaimana karya-karya Hanung lainnya yang kerap dipandang kontroversial, seperti “Perempuan Berkalung Surban” dan “?”, film “Cinta tapi Beda” ini mengisahkan percintaan dua insan berlatar belakang perbedaan agama. Cahyo (Reza Nangin), pria asal Jogja dari keluarga muslim yang taat beribadah, menjalin tali kasih dengan Diana (Agni Pratistha), perempuan kelahiran Padang beretnis Minang dari keluarga penganut Katolik yang taat pula.

Meskipun kerap terbentur dengan perbedaan keyakinan yang tertanam di antara keduanya, namun sejak pertemuan itu dalam pertunjukan tari kontemporer di Jakarta, tidak menjadi bayang yang sepintas, lalu sirna begitu saja. Keseriusan mereka semakin nampak, meski terbalut dalam perbedaan, dengan memutuskan untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang paling serius: pernikahan. Pada akhirnya, konflik dan pertentangan dari keluarga pun menjadi pemandangan yang mencolok.

Terlepas dari sisi “kontroversial”nya, apa yang ingin digambarkan di film ini adalah ajakan kepada semua kalangan tanpa terkecuali untuk senantiasa mereda nafsu akan justifikasi dengan sekat-sekat besar terhadap perbedaan agama. Sungguh, Tuhan tidak menciptakan cinta hanya untuk sekedar menyatukan keyakinan yang berbeda, melainkan untuk menyatukan hati yang sudah diperuntukkan untuk bersama meski dibalut dalam perbedaan.