Sastra


Mampus kau dikoyak ambisi
Bahkan puing pun tak jua bisa kau genggam lagi

Sebelum ambisi yang lain mengoyakmu kembali
Baiknya dirimu kau bawa lari
Ajak-serta sesalmu yang tiada arti

(Jogja, 19 Oktober 2017)

Advertisements

Jesus-Writing

Sini, dear
Kuceritai kau tentang kampung halamanku
Tempat diriku lahir, dibesarkan, dan lalu kutinggal barang sejenak

Tak seelok memang seperti citamu
Hanya karena kau memperbandingkannya dengan yang permai-permai di timur jauh sana
Tempat kasihmu berlabuh juga mimpi-mimpi
Mungkin sebab itulah kau pilih pergi lalu menghilang

Tapi, ingat-ingat saja
Rinduku untuknya jauh lebih besar ketimbang untukmu
Ya, mungkin seperti rindumu juga pada yang permai-permai di pelupuk mata telanjangmu itu
Lalu apa peduliku?

Sini…
Kuceritai kau tentang spiritualitasku juga
Tentang siapa panutan yang kupilih jadi arah
Tentang di mana jejak-jejak langkah ini akan tertuju

Tak mesti orang-orang suci memang
Tak mesti pula benih-benih yang bagimu mungkin beri hangat dan semerbak wangi surga
Hanya ini: siapa berani menantang angin, di sana aku berdiri
Siapa yang tak mendua, tepat di sampingnyalah aku tegak sebagai kawan

Jika kelak ia berbelok, kupastikan mengarahkannya tanpa paksa
Jika tak bisa-bisa juga, maka kupastikan lagi untuk membiarkannya saja
Hidup bebas, tetap itu yang kupilih
Tak mesti harus menjalaninya sekaku langkahmu

Sini, dear
Kuceritai kau lagi tentang inspirasi sajak-sajakku

Limpahan sedih memang besar beri pengaruh
Tak bisa kuelak hingga terpaksa harus menutup-nutupi
Hanya ingin melepas hantu-hantu bersemayam bersosok dirimu
Memihak pada apa yang memang pantas
Bukan pada hal yang masih serba-mungkin

Sini, dear, semakin mendekatlah
Sebab akan kuceritai kau juga tentang mimpi-mimpiku
Tentang alasan keber-ada-an

Yang kupilih memang yang agung-agung
Sebab pesimis sepertimu buatku muak
Yang gemar bersandar saja pada yang sedih-sedih
Pada yang absurd meski dengan topangan kata-kata indah

Persetanlah dengan ancaman
Bukan masalah jika mau kau tempatkan cerita-cerita ini di rak-rakmu hingga berdebu
Rasa enggan dan malasku tak mungkin akan lahir hanya karena itu
Aku sudah kuat walau masih dalam muak

Tapi, meski begitu, dear
Biar kau menyinyirku terus tak henti-henti
Tetap saja kan kurindu dirimu tak usai-usai
Mohon catat-ingat itu sampai mati

Merdeka?
Merdeka dari mana?
Bagiku hanya mitos
Perayaannya cuma basa-basi
Lalu itu kembali hilang

Merdeka?
Merdeka dari apa?
Bagiku hanya lamunan
Peramaiannya cuma penggembira
Lalu itu kembali sedih

Merdeka?
Aku tak suka yang seperti itu!

Saya tak mengenal dirimu. Hanya saya bisa merasakan duka yang buatmu lara. Sepenuhnya atau tidak.

Sejak pertama membaca pembelaanmu, sebuah nota yang kau baca di depan Majelis Hakim yang—saya rasa tidak—terhormat itu, yang kau beri judul Surat untuk Istriku Tercinta, sedih saya tiada tara. Bukan karena romantisnya kata-katamu untuk sosok yang kau sayangi, tetapi lebih karena gagalnya negara kita mengedepankan asas manfaat dalam menilai lakumu dari sekadar memberlakukan hukum apa adanya.

Kau bisa lihat, bukan, bagaimana mereka yang di atas sana tak mau-maunya mentolerir apa yang disimpulkannya sebagai larangan? Alih-alih memberi celah, segala titik justru dilumpuhkannya tanpa ampun. Tangan besinya lagi-lagi bermain, meski harus membungkam peramu cinta seperti dirimu, Fidelis.

Benar, ganja adalah narkoba golongan I yang harus negara berantas. Dengan atau tanpa alasan, memproduksi, mengkonsumsi, menyimpan, apalagi yang membandarinya, semua harus diberi sanksi sebagaimana Kitab menyuratkannya.A tetap A, tak boleh jadi B, C, dan yang lainnya.

Fidelis, negara kita tak sadar bahwa itu perspektif hukum yang kolot. Jika hanya karena sudah tersuratkan, maka apakah semuanya harus berlaku sebagai yang final? Negara kita tak menyadarinya, Fidelis.

Tidak. Negara tak boleh lagi sekaku itu. Negara tak boleh abai pada alasan-alasan kemanusiaan di balik segala soal, termasuk pula soal yang kau derita, Fidelis. Negara harus berlaku adil, dalam pikiran, telebih dalam tindakan.

Tapi… ah sudahlah. Semua sudah melebur. Pembelaanmu tak dianggap. Istrimu pergi jauh tanpa sempat mendengar kejujuran hatimu paling dalam, tanpa pula bisa kau dengar lagi hembusan nafasnya yang buatmu bisa tenang bahagia itu.

Sungguh, ingin kiranya saya bertindak lebih dari sekadar mengatakan: “Persetan dengan negara ini!” Tapi apa daya, kuasa saya seperti kuasamu, Fidelis. Saya, juga dirimu, hanya mampu mencurahkannya lewat tulisan. Dan untuk pertama kalinya, itu saya curahkan di salah satu media populer.

Ya, Fidelis, risiko hidup di negara ini memang begitu. Tak perlu bermuram durja karenanya. Seketika tanganmu tak mampu lagi menggenggam bara, menghardiknya dengan segala daya, maka yakinlah, esok atau lusa, tangan-tangan lain akan melakukannya untukmu. Demi cinta? Semoga pun jadi harapmu.

Ada yang membisu bersama dendam
Dibawanya lari oleh kelam
Menyepi penuh harap

“Bodoh,” pikir mereka
Saling bertanya: “Sebab rindu urusan siapa?”
Bedebah!

Rumah-rumah Kota Hujan
Tiada harus peduli
Dibiarkan manusia retak-merekah
Mati berselimut dingin

Bogor, 21 Juli 2017

Next Page »