Cerpen


Tepat di malam pekat, datang ia melambat-lambat seperti siput. Secarik kertas dibawanya tergenggam erat. Tiba, hadir dengan rona yang memelas akut.

 “Ah, kau lagi, kau lagi,” batinku.

“Ada apa, Mil? Tak seceria kau malam-malam lalu. Ada apa?” tanyaku memulai sambil menelisik raut yang benamkan sebongkah pilu.

Tak selambat jalannya saat mendekat, kertasnya yang secarik langsung ia sodorkan. Isinya kosong, tanpa pena.

“Bisa kau tuliskan curahanku untuk Rei?”

“Rei…?”

“Ya, kekasihku yang kerap kusemerbakkan ranumnya di hadapmu itu.”

Belum jua sempat kutanyai tentang apa yang harus tercurah, tiba-tiba saja luapan emosinya membanjir. Seluruh ruangan jadi pengap. Nadanya tak karuan, memaksa peka hanya guna bisa menangkap. Terenyuh saya dalam sesak.

“Oh, rupanya penyakit khas manusia yang kau derita, Mil,” simpulku.

“Semua tentang kekitaanmu, urusan hati kalian yang tak satu setan pun bisa paham.”

Tanpa perlu merasa tersinggung, kembali ia bercurah dengan lepasnya. Sudah sejak bertahun lalu, nyaris tak pernah ia dapat satu kepastian apa pun dari Rei kekasihnya. Jangankan tentang asa, tentang cara menempuhnya sendiri hampir tak pernah terumuskan.

“Kekasih macam apa itu?”

Pikirnya, dalam relasi, yang dibutuh adalah berbagi. Segala soal, apalagi tentang asa, masa depan antar yang menjalin, mesti tuntas dari dua sisi. Tak boleh ditanggung sendiri.

Jenuh sudah. Kesabarannya menipis, mengaus, yang mungkin sebentar lagi akan menghabis. Dan itu, tanpa perlu penjelasan lagi, tampak pada kebiasaannya yang tak biasa. Cemas, hampir mati ia dikoyak rasa.

“Baik, baik. Disaksi malam penuh penat, mari kita coba selesaikan kau punya niat.”

Untuk kekasihku di seberang lautan sana, tulisku memulai.

“Jangan, jangan pakai lautan. Tulis saja di seberang sana. Tulis begitu tanpa satu kata pun yang memisah,” helanya.

“Ok!”

Untuk kekasihku di seberang sana, tulisku kembali.

“Nah, begitu lebih pas.”

Adakah urusan kita mulai raib? Tak pernah kurasai lagi gelombang hasratmu yang dulu menumpah. Seolah kau sudah menyirnakan diri, membungkam semua rasa yang sebelumnya pernah kita bagi.

“Sudah betul pembuka ini?”

“Sudah. Goreskan saja apa-apa yang sudah kucurah. Kuasaku hanya bisa sediakan dua hal: secarik kertas, secerca gagasan. Kuasamu, yang punya pena, mengisikannya.”

Jadi teringat saya pada konsep tabula rasa. Saya sudah merasa diri sebagai sekumpulan realitas. Tugas saya hanya satu: menumpahkan semua itu ke dalam kekosongan Mila yang malang.

Tahu kau betapa agungnya dirimu kutempatkan pada hatiku? Tentu saja kau tahu, bukan? Hanya seringnya kau berpura-pura. Seolah segala hanya harus mengalir tanpa arah. Tidak teman, tidak kekasih. Atau jangan-jangan tidak kedua-duanya?

Rei, cara mencintamu buatku lara. Tak pernah kualaminya sepanjang hayat. Hanya pada dirimu, dari kau yang sudah kukenal lebih jauh, buat pikiran dan menyeret hati pada luka yang kian menganga.

Biarlah. Tak ingin kupaksa kau mengubah irama lakumu lagi. Hanya butuh yang pasti bahwa itu benar-benar citra mencintamu. Sebab, semakin kuhayat-hayati, makin tak bisa diri yakin dan diyakinkan. Butuh hal yang entah apa hingga diri jadi tenang.

“Bagaimana dengan lanjutan yang ini, Mila?”

“Sudah, lanjutkan saja!”

Jika kuingat lagi malam itu—kali ini ia beranikan diri menuntun penaku—, tak pernah sedikit pun kusesali salah hidupku yang telah lalu. Di malam yang tak sepekat ini, kau beriku asa, tentang hidup dan tentang segala hal di hari kelak. Meski secuil, tapi itu buatku sudah cukup.

Hanya kini, setelah malam itu berlalu-lalu, takutku kian menggenang. Ada asa yang tersendat dari lakumu yang sudah tak biasa.

Kau pikir apa keberadaanku? Adakah rasa yang dulu itu masih tersimpan di lubukmu paling dalam? Atau memang sudah sedari awal tak pernah ada? Kau pikir apa keberadaanku ini?

“Sebentar, yang terakhir ini rasanya kurang tepat. Hanya penuh emosi yang tak menyentuh, bukan?”

Tanpa berucap sepatah lagi, kuserahkan saja secarik kertasnya yang kini sudah tak suci. Kubiarkan ia pergi, berlalu di malamnya disertai sunyi.

“Maaf, Mil.”

Advertisements

Sang Demonstran

Lama terhirup, sebentar-sebentar menyibak. Angin nakal itu, berhembus menerpa wajah buruknya. Tak bisa lagi ia pandang. Digenggampun apalagi. Suara-suara dengan nada harapan, menyambung lidah-lidah para si bisu, teroceh tak berarti baginya.

“Jangan sekali-kali melawannya. Halal atau haram, semua disanjung hanya untuk mempertahankan singgasananya. Ia punya kuasa. Punya harta, punya massa, punya segalanya untuk bertahan. Tapi, hanya satu yang tidak ia punyai: rasa kemanusiaan.” Hati batu yang menyelinap di dadanya, dibiarkan terus mengeras, sampai pada waktunya, ia sendiri yang akan tanggung akibat dari perbuatannya. Ia tak pernah sadar akan hal itu.

Si bisu kecil, deras larinya menembus ilalang. Tak peduli lagi ia akan senyuman, tak peduli lagi dengan segala ocehan yang ditimpakan padanya. Duri-duri di sepanjang jalan bertebaran, walau kerap menyedot segumpal darah pada kakinya, rasa sakit sedikutpun tak ada padanya.

Ia hidup berbeda dengan yang lainnya. Kekuatan yang ia tahu ada pada lawannya, tidak mengurungkan niatnya untuk berkata “tidak” dan “lawan” pada tirani. Meski kerap berujung konyol, konsisten pada komitmen, tiga kata ini yang terus menjadi penenang di hidupnya.

Kasihan. Orang mungkin akan melihatnya demikian. Suara yang diagung-agungkan, membumbung sampai ke angkasa pun, secuilpun tak ada yang mendengarnya. Angin. Kenakalannyalah yang menjadi sebab. Suara-suaranya diurai, hingga terkaburkan. Jangankan hanya terdengar, barang mengorek kupingpun hampir tidak. Ia hanya berbaur pada angin, di bawanya, sampai melanglang buana.

Pagi itu, sendiri ia menyelimuti jalanan. Bermodal rasa dan kehausan, si bisu kecil menuntut haknya dan hak-hak orang-orang yang terenggut. Lalu-lalang orang di sekitarnya, tak pernah ia peduli. Sebagian melihatnya aneh, sebagian lagi apatis. “Ya, kepedulian hanya milik orang-orang punya kasih, dan keapatisan hanya milik orang-orang tak punya rasa,” bisiknya. “Manusia lahir sebenarnya untuk apa? Bagaimana ia akan berlaku pada hidupnya? Mungkinkah ia akan bekerja pada sesamanya? Atau hanya akan mengandalkan otot demi perutnya sendiri?” Hakikat sejati ini yang mereka tak pernah temui. Pantas.

Deru-dera suara kakinya, di sepanjang ilalang yang panas dan berduri itu, membawanya sampai pada apa yang ia tuju. Sekali lagi, hanya jejak-jejak darah yang ia torehkan, seakan membuktikan dirinya bahwa ia memang punya komitmen. Dengan kibasan bendera identitas, berlantun lagu-lagu para pejuang, ia menyatu pada yang lain, menuntut hanya pada satu tujuan. “Hak hidup, hanya yang pantas yang akan memilikinya,” pikirnya dengan pasti.

Tiba di sana, mereka dijemput dengan pagar hidup. Ingin memanjakinya, tak ada kuat. Pagar hidup itu lebih tangguh dari yang mereka kirakan, bahkan dari beton sekalipun. Dengan meriam pun, lagi tak mampu menembus. Keganasannya, kemunafikannya, dengan segala sifat kebinatangannya, mereka seenak dengkul membungkam hak para si pemilik hak. Mereka tak tahu, apa yang diperintahkannya tiada lain hanyalah kerja-kerja para binatang. Sungguh malang nasibnya. Mereka diperintah ibarat sang tuan menyuruh anjingnya menangkap maling. Masih mending. Anjing disuruh menangkap maling, tapi mereka disuruh oleh si maling sendiri. Tak kenal diri. Maling teriak maling. Tak pernah ia pikirkan. Terlintas pun hampir tidak.

“Ijinkan kami masuk!” teriakan yang tak pernah tergubris. Lagu-lagu para pejuang, mulai mereka dengungkan. Walau mungkin kuping-kuping di sekitarnya mulai merasa bosan dengan lagu itu, tapi pada mereka, para pejuang itu, semangatnya terus tergugah dengan nada dan syair yang lahir dengan darah dan air mata:

Bangkitlah wahai pemuda
Marilah rapatkan barisan
Tuk membebaskan negeri ini
Dari tangan-tangan serakah
Mari kobarkan api
Dari jiwa-jiwa yang suci
Jadilah pejuang sejati
Siap menggulingkan setiap tirani
Ayo berseru

Mari bersatu
Rakyat pasti menang

Sejenak lalu mulai berdendang, terdengar suara: “tepak…tepak…tepak…” pukulan demi pukulan menyerua ke mana-mana. Satu per satu terkapar, yang lain entah apa. Kerumunan kokoh para si bisu, secepat itu lebur tanpa perlawanan. Mencoba untuk bangkit, amarah terus menghadangnya. Sesekali dengan tendangan, tak sesekali dengan pukulan. Hancur sudah. Kaki-kakinya yang tadinya tangguh, berjalan menuju harapan, kini lemah, berserakan, seperti semut-semut yang baru saja terusik oleh ulah si jahil.

“Apa yang kalian inginkan? Mau cari mati?” kalimat yang sungguh tak pantas mereka lontarkan.

Satu-dua orang dilarikan. Dibawa dengan mobil para petugas yang saat itu berpatroli, menuju kantornya dan rumah pengobatan terdekat. Darah dan keringat berceceran, dibiarkan kering di bawah terik matahari. Atribut-atribut yang tadinya indah di hadapan, terlihat kumuh seperti atribut pada pesta rakyat yang baru saja usai. Hampa penuh debu. Sebagiannya mungkin masih bisa dirajuk, sebagiannya lagi hanya bisa jadi bahan injakan oleh mereka yang berlalu-lalang.

“Perjuangan ini adalah perjuangan kita yang harus direnggut sampai titik darah penghabisan,” teriak orator dengan nada menyalakkan semangat para si bisu dengan orasi. “Hanya pada yang berhak dan yang berjuang untuknya lah yang pantas menikmati hasilnya!”

“Merdekaaaaa…!!!,” yang lain ikut bersorak. Api semangat itu tak pernah mereka padamkan. Walaupun dengan kenakalan anginpun yang setiap saat mencoba memadamkannya, tak pernah goyah untuk kemudian padam. Jangankan hanya dengan keringat dan darah yang cuma setetes, pada nyawa sekalipun sangat berarti untuk mereka berikan. “Perjuangan memang butuh pengorbanan.” Pepatah ini tak nyaris mereka lupakan. Ia hidup, abadi entah sampai kapan.

Perjuangan terus berlanjut. Peralatan perang yang seadanya, hampir tak membuatnya patah dalam berjuang. Hanya semangat yang mungkin lebih besar menggelora, dengan pasukan yang sedikit-banyak berontah. Harapan ini, menjadi harapan semua. Tak ada kata menyerah untuk terus memperjuangkannya. Harapan, adalah kunci yang harus mereka wujudkan.

Si bisu kecil yang tadinya menganggap akan sendiri, nampak mengucurkan air mata. Apa gerangan yang ia tangisi? Mengapa pada saat yang lain ikut bersorak atas kemenangan, ia malah bersedih? Tidak. Air mata itu bukan air mata pada umumnya, yang dibangun atas dasar kesedihan. Keharuannya, bukan karena ia bangga pada dirinya sendiri yang berjuang, tapi bangga pada mereka yang turut serta berjuang atas nama kebenaran.

Jangan, jangan usap air mata itu. Anak cucunya kelak harus tahu, air mata moyangnya itu adalah balasan dari darahnya yang tercecer. Bukan ia menyesalinya, bukan pula sakit karenanya. Air mata adalah bukti pengabdiannya pada tanah Ibu Pertiwi ini.

 

Sudah hampir seminggu I Katta tidak punya uang lagi. Dia sangat membutuhkan uang untuk keperluan sehari-hari. Dia tak tahu lagi kemana harus mencari uang untuk menyambung hidupnya. Akhirnya, dia pergi ke kampung tetangga untuk mencari pekerjaan agar bisa mendapat uang untuk kebutuhan sehari-harinya.

Sesampainya di kampung itu, dia bolak-balik kesana-kemari mencari lowongan kerja namun tak satu pun lowongan kerja yang dia dapat. Dia sudah lelah mencari dan akhirnya beristirahat di bawah sebuah pohon rimbun. Tak lama duduk di bawah pohon dan menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang berhembus dengan lembut, dia pun tak dapat menahan rayuan angin yang memaksa matanya untuk dipejamkan.

Ketika I Katta merebahkan badan dan menyandarkan badannya di batang pohon besar itu, tiba-tiba muncul di hadapannya dua orang yang bertubuh kekar dan kuat merenggut lengan I Katta dan berkata, “Hey, bangun manusia malas!” Tangan yang kuat itu menarik I Katta hingga terbangun dari sandarannya. “Kamu harus membantu kami di ladang,” kata orang yang bertubuh kekar itu. I Katta pun mencoba untuk mengelak namun tak sempat karena dua orang itu langsung menyeretnya menuju ladang yang dimaksud tersebut.

Selama beberapa waktu mereka berjalan, mereka pun akhirnya sampai ke ladang itu. Mereka terus menyeret I Katta untuk bertemu dengan pemilik ladang. Pemilik ladang itu lebih besar dari kedua orang yang tadi menyeret I Katta dan bermata satu.

“Kamu harus bekerja di sini sampai tengah hari besok,” kata Si mata satu itu. “Saya akan memberimu makanan dan minuman tapi, kalau kerjamu lambat atau malas, saya tidak akan segan-segan untuk memberimu cambukan yang keras,” sambungnya.

I Katta tidak kuasa untuk menolak perintah Si mata satu karena telah diancam dan dibentak-bentak. I Katta harus bekerja keras supaya tidak terkena cambukan dari mereka.

Setelah bekerja berjam-jam, I Katta pun merasa sangat lelah. Dengan kelelahannya itu, I Katta akhinya mendapatkan ide yang brilian untuk bisa lepas dari pekerjaan itu. Dia menghampiri Si satu mata dan berkata, “Tuan, Tuan liat kan kalau hamba orangnya lemah,”  kata I Katta dengan nada gugup. “Hamba tidak bisa bekerja dengat cepat sesuai perintah Tuan.

“Terus mau apa?” tanya Si mata satu dengan wajah yang menyeramkan.

Dengan suara lemah, I Katta pun bertanya, “jika Hamba bisa memberi Tuan seseorang yang bisa bekerja tiga kali lipat giatnya di banding hamba, akankah Tuan mau melepaskan hamba?”.

Si mata satu, pemilik  ladang itu tertarik dan setuju dengan tawaran I Katta. “Saya setuju dengan tawaran kamu,” kata Si satu mata dan memberi syarat, “Tapi ingat, jika kamu menipuku, kamu akan mendapat akibatnya dengan bekerja di sini seumur hidupmu tanpa diberi makan dan minum.

“Tidak, hamba tidak akan menipu Tuan,” kata I Katta dengan senang. “Besok tengah hari, Tuan bisa mengambil orang itu di bawah pohon tempat di mana orang-orang Tuan menemukan hamba,” sambung I Katta.

“Baik, saya akan mengijinkanmu pulang”. Kata Si satu mata. “Kalau sampai menipu saya, awas,’ ancamnya.

Akhirnya, I Katta pun bisa pulang dan langsung menghadap kepada Raja Sudirman.

“Dari mana saja kamu, Katta?” tanya Sang Raja.

“Yang Mulia, kemarin hamba pergi ke kampung sebelah,” jawab I Katta dengan menundukkan kepala tanda hormat pada Sang Raja.

“Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Sang Raja lagi.

“Yang Mulia, kemarin ketika hamba pergi ke sana, hamba menemukan tempat yang begitu indah, jawab I Katta dengan tersenyum. “Di tempat itu hamba mendengar musik yang sangat merdu, serasa di dalam syurga.

“Oh Ya,” Sang Raja heran.

“Kalau Yang Mulia tertarik, hamba bisa membawa Yang Mulia kesana dan Yang Mulia bisa menikmatinya sendiri,” kata I Katta dengan perasaan senang karena sebentar lagi akan terlepas dari janji Si satu mata.

“Besok kamu bawa saya kesana!” perintah Sang Raja yang sudah tak sabar lagi ingin mendengar alunan musik itu.

“Saya bisa membawa Yang Mulia kesana, tapi dengan satu syarat,” kata I Katta.

“Apa syaratnya, Katta?” tanya Sang Raja yang sudah tidak sabar.

I Katta pun berkata, “Yang Mulia harus berpakaian seperti seorang petani.”

“Tidak masalah,” kata Sang Raja.

Keesokan harinya, I Katta dan Sang Raja pun langsung berangkat ke kampung sebelah menuju pohon yang besar itu.

Sesampainya di sana, Sang Raja berkata, “Saya tidak mendengar musik apapun di sini, Katta.”

“Tenang, Yang Mulia,” kata I Katta menenangkan Sang Raja. “Kemarin hamba mendengarnya dengan jelas, Jadi tunggulah beberapa menit.”

Sang Raja pun duduk di bawah pohon rimbun itu menunggu musik yang dikatakan oleh I Katta sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus ke wajahnya dengan nyaman. Sang Raja pun merasa ngantuk dan akhirnya tertidur di bawah pohon itu.  Melihat Sang Raja tertidur pulas, I Katta pun langsung pergi meninggalkan Sang Raja seorang diri yang telah tertidur.

Beberapa waktu kemudian setelah kepergian I Katta, datanglah dua orang petani yang juga rakyat dari Sang Raja Sudirman yang bekerja sebagai budak Si satu mata. Mereka mendekati Sang Raja yang sedang tertidur dan langsung menyeretnya. Tentu saja mereka tak tahu kalau mereka telah menyeret Raja mereka sendiri, Raja Sudirman, karena dia menggunakan pakaian seperti para petani. Mereka langsung menghadapkan Sang Raja pada Si satu mata untuk diberikan pengarahan tentang tugasnya. Si satu matapun memberikan petunjuk kerja seperti yang telah diberikan kepada I Katta kemarin. Sang Raja tak dapat menolak atas semua itu.

Sang Raja akhirnya bekerja. Dia bekerja sangat giat dan cepat karena dia tidak ingin merima cambukan dari Si satu mata yang kejam itu. Sang Raja sangat marah pada I Katta dan orang-orang biadab dan kejam itu tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu.

Keesokan harinya, tepat jam 12.00 siang, Si satu mata melepaskan Sang Raja untuk pulang. Sang Raja pun segera kembali ke istana.

Sesampainya di Istana, Sang Raja langsung memerintahkan beberapa pengawalnya untuk memanggil I Katta dan membawanya untuk menghadap. “Cari I Katta dan suruh dia menghadap kepadaku sekarang juga,” perintah Sang Raja dengan nada keras. Para pengawal pun pergi mencari I Katta.

Ketika I Katta sudah di hadapan Sang Raja, Sang Raja berkata dengan marah, “Berani-beraninya kamu melakukan itu kepadaku Katta, kata Sang Raja sangat marah kepada perlakuan I Katta kepada dirinya kemarin. “Kamu tahu apa yang telah kamu perbuat terhadapku. Kamu akan menerima akibatnya. Kamu akan dihukum cambuk.”

“Tunggu sebentar Yang Mulia!” Kata I Katta mencoba menjelaskan. “Tolong maafkan Hamba,” kata I Katta dengan pelan. “Hamba tidak bermaksud demikian,” kata I Katta terus menjelaskan. “Saya hanya ingin Yang Mulia tahu akan sesuatu.”

“Sesuatu apa maksud kamu?” bentak Sang Raja.

“Yang Mulia, kalau saya tidak melakukan hal itu kepada Yang Mulia dan membiarkan Yang Mulia mengetahuinya sendiri apa yang telah terjadi di luar sana, Yang Mulia tidak akan mempercayaiku,” kata I Katta. “Sekarang Yang Mulia telah melihat dan mengetahuinya sendiri, paling tidak Yang Mulia tahu bahwa tidak semua rakyatmu mengabdi kepada yang Mulia. Ada beberapa orang yang biadab dan kejam seperti petani-petani yang ada di kampung sebelah.”

Sang Raja pun mengangguk pelan mendengar penjelasan I Katta dan kemudian tersenyum.

“Kamu benar, Katta!” kata Sang Raja yang mulia mengerti dengan semua itu.

Akhirnya, I Katta pun terbebas dari hukuman Sang Raja. Dia pun merasa senang dan gembira dan dapat tersenyum kembali.